Kamu Pengunjung Ke

Arsip Blog

Get Connection

TRAVEL MURAH KE BANDUNG
Jalan-jalan ke Kota Wisata Bandung dengan layanan yang ramah dan berpengalaman, membuat Anda terasa nyaman dalam mengisi liburan
kiostravel-id.blogspot.com

Koleksi Pakaian Terbaik
Temukan Pakaian Idaman dan sesuai Kebutuhan anda DISINI
dhifastore.blogspot.com

Ads by Dhifa Outlet

Site Info

ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free My Ping in TotalPing.com

Followers

Tampilkan postingan dengan label Prabowo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prabowo. Tampilkan semua postingan

16 Juli 2014

Ketakutan Yang Tersembunyi di Belakang Layar

10347568_862065407141206_4844534145348695993_n
Mengapa Jenderal Hendropriyono dan Jenderal Wiranto SANGAT TAKUT jika Prabowo jadi Presiden ?
Sangat jelas dikatakan oleh Jenderal (Purn) Kievlan Zen bahwa “Bila nanti Prabowo menjadi Presiden RI 2014 maka beliau akan menuntaskan SEMUA pelanggaran HAM di Indonesia dengan membentuk Panel Nasional sehingga negara ini tidak tersandera kasus- kasus HAM yg belum terkuak sampai hari ini. Sekarang kita tahu mengapa Prabowo selalu diserang saat ini, hantaman fitnah bertubi-tubi tiada henti karena mereka tidak ingin ditelanjangi dikemudian hari.”
Mereka takut jika kebenaran yang sesungguhnya akan terungkap. Tragedi Pembantaian Talangsari (Lampung) pada tahun 1989, pembunuhan langsung 45 orang, penculikan 5 orang, penghilangan paksa 88 orang, penyiksaan 36 orang, peradilan rekayasa 23 orang, penangkapan dan penahanan sewenang-wenang 173 orang. Hampir seluruh rumah beserta perabotannya didusun tersebut habis dibakar oleh militer.
Bahkan orang sedang Shalat shubuh pun juga dibunuh. Kolonel AM Hendropriyono yang saat itu menjabat Danrem Garuda Hitam Lampung yang jelas-jelas memimpin pasukan dalam pembantaian itu justru terbebas dari jeratan hukum. Di era presiden Megawati akhirnya Hendropriyono diberi jabatan strategis yaitu kepala BIN (Badan Intelijen Negara). Sebagai catatan, Munir Said Thalib tewas terbunuh pada 7 September 2004 dalam pesawat yang sedang terbang dari Jakarta menuju Amsterdam.
Laporan Wikileaks, April 2007, yang dikutip The Sydney Morning Herald menyebutkan Diplomat Amerika tahu bahwa BIN menyiapkan banyak skenario pembunuhan untuk Munir. Anehnya Capres Joko Widodo (Jokowi) justru membela Hendropriyono. Mungkin karna saat ini Hendropriyono menjadi anggota Dewan Pengarah Tim Sukses Jokowi-JK, makanya Jokowi terus membelanya. Kemudian bagaimana dengan tragedi 1998? Jenderal Wiranto yang saat itu menjabat Panglima ABRI justru seolah-olah cuci tangan dan tak mau tahu soal tragedi 1998 karena bagi Wiranto hal itu dianggap tidak menguntungkan secara politis.
Prabowo yang pada saat itu sebagai bawahannya justru dikambing hitamkan dan pada akhirnya diberhentikan dari militer. Hal ini sekaligus untuk menutup persepsi publik akan tanggung jawab Wiranto selaku Panglima ABRI. Seolah-olah Prabowo lah yang bersalah. Padahal jelas kasus penangkapan aktifis 1998 ini sudah sangat loud and clear – terang dan jelas dari hasil investigasi Tim Ad Hoc KOMNAS HAM yang hasilnya sudah keluar tahun 2006 bahwa Prabowo dan Kopassus tidak bersalah dalam “OPERASI MANTAB JAYA”- sebuah operasi pengamanan aktivis yang disebut sebagai “SETAN GUNDUL” saat menjelang sidang Umum MPR 1998.
9 nama “Setan Gundul” tersebut adalah : Haryanto Taslam, Pius Lustrilanang, Desmon J Mahesa, Andi Arief, Nezar Patria, Mugiyanto, Aan Rusdianto, Faisol Reza dan Rahardjo Waluyo Jati. Kesemuanya sekarang sehat wal’afiat bahkan beberapa orang diantaranya sekarang menjadi pengurus pusat dari Partai Gerindra pimpinan Prabowo Subianto, mereka adalah Haryanto Taslam, Pius Lustrilanang, Desmond J Mahesa dan Aan Rusdianto. Penyair “Wiji Thukul” pun ternyata masuk dalam daftar operasi oleh Non Kopassus (bukan Kopassus) yang seharusnya menjadi TANGGUNG JAWAB Panglima ABRI Jenderal WIRANTO.
Inilah sebab mengapa mereka para Jenderal-jenderal yang bermasalah di masa lalu begitu TAKUT jika PRABOWO menjadi PRESIDEN. Bahkan, pada 3 Juni 2013 Mantan Kasum TNI Letjen (purn) Suryo Prabowo mengirim pesan singkat (SMS) kepada para purnawirawan TNI senior. SMS itu berisi imbauan agar tidak lagi memfitnah capres Prabowo Subianto dengan cara membangun opini negatif.
“Berikan contoh kepada para juniormu dan Rakyat Indonesia cara berkompetisi yang sehat sebagaimana layaknya sebagai seorang ksatria”. Pesan itu dikirim ke Jenderal TNI (purn) Wiranto, Agum Gumelar, dan Luhut Panjaitan. Kita tahu ketiga Jenderal itu sekarang berada dibelakang Jokowi. Mungkin memang benar bahwa Hendropriyono, Agum Gumelar dan Luhut Panjaitan mewarisi segala misi dari Jenderal Benny Moerdani yang selalu merongrong negeri ini sejak era Orde Baru.
Sosiolog Universitas Jember, Maulana Surya Kusumah, Jumat 13 Juni 2014.mengatakan: “Jika Prabowo memang bersalah, kenapa masih bisa ikut pemilu? Jika memang bersalah, kenapa tidak masuk penjara? Jika memang bersalah, kenapa Mahfud MD yang anggota Dewan Penasihat Komisi Nasional HAM justru berpihak kepada dia? Jika memang bersalah, kenapa Said Aqil Siradj yang wakil ketua Tim Gabungan Pencari Fakta Kerusuhan Mei 1998 justru memihak Prabowo?”
Asia Week (Posted by Michael Steven)
sumber http://ngopo.com/

Read More »
07.09 | 0 komentar

13 Juli 2014

Dukungan Kemenangan Prabowo Menguat, Jadi Topik Utama di Twittland

Dukungan kepada calon presiden Prabowo Subianto kembali menguat di dunia maya twittland.
Kali ini bentuk dukungan yang diberikan yakni dengan unggulnya perbincangan dengan tanda pagar (tagar) #kamisaksikemenanganPRABOWO pada Sabtu (12/7/2014) malam.

Tagar ini menempati posisi pertama dan menjadi trending topic.

Beberapa akun twitter pendukung Prabowo menuliskan kegembiraannya seperti akun Tya @austyaa menulis: senangnya dr pagi liat trending topic #kamisaksikemenangan PRABOWO J ;).

Satu Garis @WisnuARamadi menulis: gue sih lebih seneng hestek #kamisaksikemenanganPRABOWO karena gue bagian dari itu.

Menguatnya dukungan masyarakat kepada mantan Danjen Kopassus ini, menyusul ramainya perbincangan terkait hasil hitungan real pemilu presiden yang telah berlangsung Rabu (9/7/2014) lalu.

Dari hasil perhitungan real tersebut, disebutkan pasangan nomor urut 1 Prabowo Subianto –Hatta Rajasa meraih 54% suara lebih unggul dibanding pasangan Joko Widodo – Jusuf Kalla yang mendapatkan dukungan 46%.

Meski hasil perhitungan ini mengunggulkan dirinya, Prabowo dalam beberapa kesempatan tetap menyatakan akan menunggu hasil hitungan resmi dari KPU pada 22 Juli mendatang.

sumber http://news.bisnis.com/

Read More »
08.32 | 0 komentar

30 Juni 2014

Dukung Prabowo-Hatta, Rustriningsih Terancam Dipecat

Calon presiden Prabowo Subianto dan mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih.
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan akan memberi sanksi kepada salah satu politisinya Rustriningsih. Mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah itu justru mendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa di pemilihan presiden 2014.

"Kita akan kenakan sanksi tegas berupa pemecatan," kata Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto, Senin 30 Juni 2014.

Hasto menjelaskan surat teguran untuk mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah itu sedang diproses. "Aturan di AD/ART sangat jelas. Mereka yang tidak mengikuti akan ada sanksi tegas berupa pemecatan. Suratnya sedang diproses," ungkapnya.

Hasto menilai bergabungnya Rustriningsih di kubu Prabowo-Hatta tidak akan menaikkan elektabilitas calon presiden nomor urut satu itu.

"Tim Prabowo-Hatta harus belajar dari pemilihan Gubernur Jawa Tengah. Kita tahulah yang dipilih selalu kalah," ujarnya.
Dihubungi wartawan secara terpisah, Rustriningsih mengakui banyak isu yang berkembang menyangkut dukungannya di Pemilu Presiden 2014. Kendati begitu, Rustri belum bersedia menjawab terbuka.

"Banyak isu berseliweran. Dikabarkan oleh Pak Tjahjo Kumolo bahwa PDIP akan menggandeng saya untuk kampanye. Kemudian hari ini Pak Hatta juga menyebutkan bahwa tanggal 3 Juli nanti akan ketemu saya," kata Rustriningsih.
Sementara itu, para pendukung Rustriningsih sudah mendeklarasikan dukungan mereka kepada Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Dukungan itu diyakini dipicu isu pemecatan suami Rustriningsih, Sonny Nooryatno dari PDIP.
© VIVA.co.id

Read More »
08.47 | 0 komentar

22 Juni 2014

Rachmawati: Yang Salah Komandan, Bukan Prajurit

Mahfud MD dan Fadli Zon di kediaman Rachmawati Soekarnoputri, 22 Juni 2014.

Rachmawati Soekarnoputri menyatakan Prabowo Subianto tak mesti disalahkan dalam kasus pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu. Atasan Prabowo lah, kata putri Soekarno itu, yang seharusnya bertanggung jawab.


“Saya mengerti betul. Prajurit tidak salah, yang salah komandan. Siapa komandan waktu itu? Wiranto,” kata Rachmawati di kediamannya di Jakarta Selatan, Minggu 22 Juni 2014, usai berbincang dengan Ketua dan Sekretaris Tim Pemenangan Prabowo-Hatta, Mahfud MD dan Fadli Zon.

Rachmawati berpendapat, pemaparan Wiranto masih belum objektif. Menurut dia, negarawan tak selayaknya mengumbar masa lalu.

“Itu kasus lama. Ketika Prabowo menjadi pasangan Megawati (pada Pilpres 2009), tak ada disinggung persoalan HAM,” ujar Rachmawati.

Lebih lanjut, Rachmawati menganggap kasus Prabowo merupakan buntut dari persoalan internal Angkatan Darat. “Dewan Kehormatan Perwira itu untuk Perwira Menengah, bukan untuk Perwira Tinggi. Jadi cacat hukum, inkonstitusional,” kata dia.

Rachmawati berharap siapa pun presiden yang terpilih nanti, tak saling mencari cacat di belakang. Sebab, ujarnya, apa yang terjadi sekarang merupakan sebab-akibat dari masa lalu.

Pernyataan Wiranto

Sebelumnya, mantan Panglima ABRI Wiranto yang bekas atasan Prabowo buka suara seputar bocornya dokumen keputusan Dewan Kehormatan Perwira tanggal 21 Agustus 1998 yang berisi rekomendasi pemberhentian Letnan Jenderal Prabowo Subianto dari TNI.

“Pemberhentian Prabowo sebagai Pangkostrad disebabkan adanya keterlibatan dia dalam penculikan saat menjabat Danjen Kopassus,” kata Wiranto. Perbuatan Prabowo itu, ujar Wiranto, melanggar Sapta Marga, Sumpah Prajurit, etika keprajuritan, dan beberapa pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

“Dengan adanya fakta tersebut, istilah diberhentikan dengan hormat atau tidak sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Sejatinya masyarakat sudah dapat menilai. Saya tidak mau terjebak pada istilah karena perbedaan istilah tersebut sarat kepentingan politik,” kata Wiranto.

Meski demikian, Wiranto menjelaskan secara normatif apa yang dimaksud pemberhentian secara hormat atas seorang prajurit TNI. “Seorang prajurit diberhentikan dengan hormat apabila yang bersangkutan habis masa jabatannya, meninggal dunia, sakit parah, cacat akibat operasi militer, mengundurkan diri dari kedinasan dan disetujui atasan,” kata dia.

Sementara itu, pemberhentian dengan tidak hormat, ujar Wiranto, apabila prajurit tersebut melanggar Sapta Marga, melanggar Sumpah Prajurit, dan melanggar hukum, sehingga ia tidak pantas lagi menjadi seorang prajurit.

Namun, kubu Prabowo minta tudingan penculikan itu dibuktikan. “Itu kan operasi intelijen. Waktu itu keadaan genting. Maka boleh melakukan sesuatu, mengambil tindakan,” kata Direktur Operasi Tim Pemenangan Prabowo-Hatta, Edhy Prabowo.

Tim pemenangan Prabowo-Hatta juga menunjukkan salinan surat putusan pemberhentian Prabowo yang ditandatangani oleh Presiden B. J. Habibie tiga bulan setelah Dewan Kehormatan Perwira mengeluarkan rekomendasi pemberhentian Prabowo dari TNI.

“Kepada Bapak Prabowo, kami ucapkan terima kasih atas jasa-jasanya selama mengabdi di ABRI. Surat ini ditandatangani dan ditetapkan di Jakarta, 20 November 1998, oleh Presiden RI Bacharuddin Jusuf Habibie,” kata anggota tim pemenangan Prabowo-Hatta, Marwah Daud Ibrahim, membacakan salinan surat putusan tersebut.

Berdasarkan kalimat yang tertera di salinan surat itu, kubu Prabowo-Hatta yakin Prabowo diberhentikan secara hormat dari dinas kemiliteran. Terlebih, Menteri Sekretaris Negara Muladi saat itu mengirimkan surat kepada Komnas HAM yang menyatakan tidak terdapat cukup bukti yang membuat Prabowo bisa dinyatakan terlibat dalam kasus penculikan aktivis.




© VIVA.co.id

Read More »
08.08 | 0 komentar

Angkat Senjata Cari Wiranto

Purnawirawan Kopassus Ancam Angkat Senjata Cari Wiranto
Pernyataan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Wiranto bahwa Prabowo Subianto inisiator penculikan aktivis medio 1997-1998 berbuntut panjang. Perwakilan mantan prajurit Kopassus sangat menyesalkan sikap yang ditunjukkan Wiranto beberapa waktu lalu.
Setidaknya ada puluhan mantan pasukan elite TNI AD tersebut menilai Wiranto tidak pantas mengucapkan penculikan aktivis dibebankan kepada Prabowo yang saat itu menjabat sebagai Komandan Jenderal Kopassus. Bagi mereka, tuduhan Wiranto salah besar.
"Tak pantas sebagai mantan seorang pimpinan berbicara seperti itu. Itu namanya memecah belah dan mengadu domba. Ucapan itu karena Wiranto telah disuap uang asing," ujar Kolonel TNI (Purn) Ruby usai pernyataan sikap dan orasi mantan Kopassus mendukung Prabowo Presiden RI 2014-2019 di Jakarta, Sabtu (21/6/2014).
Menurut Ruby, apapun yang terjadi di TNI yang bertanggung jawab adalah pimpinan, dalam hal ini Kepala Staf TNI AD dan Panglima TNI saat itu. Oleh karena itu, Ruby menilai ucapan Wiranto tersebut sangat melukai mereka karena Wiranto tidak menunjukkan jiwa korsa satuan.
"Sebetulnya kejadian seperti itu yang bertanggung jawab pimpinan. KSAD yang bertanggung jawab. Seharusnya dengan tegas Pak Wiranto menjawab 'Yang perintahkan Prabowo itu saya.' Tapi karena dia cemen, ingin menutupi kesalahannya. Maka Prabowo disalah-salahkan," tegas Ruby.
Saking marahnya para purnawirawan, mereka meminta Wiranto melepaskan wing komando Kopassus. Lagi pula, kata dia, Wiranto sebagai panglima TNI saat itu mendapatkan wing Kopassus hanya dengan disematkan.
Mantan Dantim 1 Kompi 13 Grup I Kopassus Serang ini mengultimatum Wiranto, jika masih saja meneruskan pernyataan hal yang sama terkait Prabowo ke publik, para purnawirawan jebolan Kopassus tidak takut mengangkat senjata dan mencari keberadaan Wiranto.
"Ketika beliau dinas, katanya jiwa korsa. Bohong semua. Saya sangat prihatin, sangat menyesal. Saya melihat seperti itu tidak pantas. Saya dididik beliau-beliau. Pertama jiwa korsa, jiwa persatuan harus selalu bersatu. Namun beberapa jenderal sudah terbaca akan memecah belah bangsa ini. Beliau-beliau harus bertanggung jawab," sahut lainnya.
Sampai berita ini diturunkan, Tribunnews.com masih menunggu konfirmasi dari Wiranto, yang juga Ketua Umum DPP Partai Hanura.
sumber http://pontianak.tribunnews.com/2014/06/21/purnawirawan-kopassus-ancam-angkat-senjata-cari-wiranto

Read More »
08.05 | 0 komentar

19 Juni 2014

Kivlan Zen Buka Kartu 'AS' Prabowo Subianto

Mantan Kepala Staf Kostrad, Mayor Jenderal (Purn) Kivlan Zein
Mantan Kepala Staf Kostrad Mayor Jenderal (Purn) Kivlan Zen akhirnya angkat bicara terkait foto-foto kekerasan yang diperlihatkannya di tengah dialog terbuka dengan tim pemenangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla di hadapan mahasiswa Universitas Indonesia, Rabu 18 Juni 2014.

"Ini adalah foto-foto kekerasan yang terjadi pada waktu kerusuhan Mei 98," kata Kivlan sambil memperlihatkan foto-foto kekerasan.

Kivlan mengatakan, foto-foto yang diperlihatkannya di depan mahasiswa merupakan salah satu bukti untuk mengungkap siapa yang paling bertanggung jawab pada kerusuhan Mei 1998 silam.

"Tak usah saya sebut orangnya, kerusuhan ini sudah direncanakan dan mereka menggelar rapatnya di Senayan. Kalau saya buka ini adalah aib bangsa," beber Kivlan.

Lebih lanjut, Kivlan menegaskan, kasus kekerasan kerusuhan Mei 98 itu tidak ada kaitannya dengan Prabowo Subianto, yang saat itu menjabat Panglima Kostrad. Prabowo, kata dia, tidak pernah meninggalkan Jakarta.

"Kalau dia pergi, maka habislah Jakarta. Saya bicara ini, karena saya ada bersama dia," ujarnya.

Menurutnya, kerusuhan dan kekerasan Mei 98 sengaja direncanakan dengan menggelar rapat dan dikontrol dari Bogor.
"Jadi jelas, Pak Prabowo hanya terkena fitnah. Kalian bisa lihatkan di foto ini, orang-orangnya ada dan ada spanduk merah, jelas di situ bertuliskan Komite Pendukung Megawati," ungkap Kivlan.

"Kalau mau blak-blakan ayo di pengadilan. Biar kita buka semua. Kasihan Pak Prabowo difitnah terus. Kalau tidak ada Prabowo, Jakarta bisa hancur berbulan-bulan seperti yang terjadi di Mesir dan negara lain," tambahnya. (asp)
sumber http://politik.news.viva.co.id/news/read/513891-kivlan-zen-buka-kartu--as--prabowo-subianto?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook

Read More »
07.14 | 0 komentar

Ketegasan Prabowo Penting untuk Bangun Karakter Bangsa

Ketegasan Prabowo Penting untuk Bangun Karakter Bangsa
JAKARTA - Figur Calon Presiden Prabowo Subianto dikenal sebagai sosok tegas serta memiliki komitmen kuat terhadap perbaikan nasib rakyat kecil. Adapun ketegasan sikapnya merupakan modal utama guna membangun keunggulan karakter bangsa, utamanya jika Prabowo memenangkan ajang kontestasi di Pilpres untuk kemudian menjadi Presiden RI mendatang.

"Dengan memiliki ketegasan itu, maka Prabowo sangat diharapkan menjadi seorang pemimpin nasional yang mumpuni, berwibawa, dan akan berperan menciptakan karakter bangsa yang kukuh baik di sisi kebangkitan ekonomi rakyat, maupun atas dasar pengaruh kebudayaan, politik, dan harkat bernegara sesuai dambaan bersama," ujar Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan di Jakarta, Rabu (4/6/2014).
Dengan demikian, katanya, adanya aspek kemandirian sekaligus kemajuan bangsa di berbagai sektor kehidupan pun akan menjadi prioritas dalam agenda kepemimpinan Prabowo, dan hal itu dapat mengantarkan kemartabatan Indonesia baik di tingkat nasional ataupun di lingkungan global.
"Intinya, ketegasan dengan sikap berpihak kepada rakyat membuat Prabowo menjadi penting untuk bisa memimpin negeri ini," tegasnya.
Menurut Syahganda, rakyat sudah barang tentu menghendaki calon pemimpin yang tegas serta berkiblat pada keberadaan nasibnya, karena sikap seperti itu diperlukan untuk membela kepentingan berikut hak-hak dasarnya.
Apalagi, di tengah model ekonomi bercorak kapitalisme dan neoliberalistik yang turut mewarnai ekonomi nasional dengan banyak merugikan rakyat saat ini, sehingga pilihan kepada Prabowo terhitung paling pantas demi mengoreksi terjadinya fenomena tersebut.
"Selebihnya, keberpihakan Prabowo kepada rakyat akan membangun suatu keniscayaan bagi terciptanya rasa keadilan ke arah hidup bermartabat dan menjadi sejahtera," jelas Syahganda, yang juga duduk sebagai direktur penggalangan relawan tim sukses pemenangan Prabowo-Hatta.
Ia menyebutkan, dengan berpasangan Cawapres Hatta Rajasa yang berpengalaman di bidang ekonomi dan pemerintahan, peluang Prabowo untuk memimpin Indonesia ke depan juga dirasakan semakin diapresiasi kebutuhannya oleh elemen rakyat atau masyarakat luas, karena memang lebih menjamin terlaksananya program-program kerakyatan secara cepat dan sungguh-sungguh.
Syahganda meyakini, pasangan Prabowo-Hatta dapat membawa mandat penciptaan kondisi yang benar-benar sehat di sekitar kehidupan rakyat, agar tidak selamanya mengalami kelemahan maupun bentuk ketertinggalan di bidang sosial ekonomi, yang justru tergolong mendesak diberi penanganan oleh negara.
sumber http://pemilu.okezone.com/read/2014/06/04/567/993670/ketegasan-prabowo-penting-untuk-bangun-karakter-bangsa

Read More »
06.09 | 0 komentar

15 Juni 2014

Debat, Prabowo: Silakan Asing Masuk RI, Tapi Bawa Uang Sendiri

Prabowo Subianto
Prabowo Subianto mengusung ekonomi kerakyatan dalam debat kedua soal pembangunan dan ekonomi kesejahteraan sosial. Mengapa dan bagaimana itu bisa diwujudkan? Dan, bagaimana soal investasi sesuai konteks ekonomi kerakyatan, mengingat kini asing sangat mendominasi. Ini jawaban Prabowo.

Debat kedua yang digelar mulai pukul 20.00 WIB, Minggu 15 Juni 2014, dipandu moderator dari Universitas Brawijaya, Ahmad Erani Yustika.

Ekonomi kerakyatan, kata Prabowo, merupakan ekonomi jalan tengah, yang berdasarkan Pasal 33 UUD 1945 bahwa perekonomian kita harus berasaskan kerakyatan. Dengan kata lain, sumber ekonomi yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara.

"Jadi, ekonomi harus ditujukan pada penguatan dan pemberdayaan kekuatan rakyat, tak hanya pertumbuhan," kata Prabowo.

Pemerintah, ujar dia, harus menjamin kesejahteraan rakyat, terutama masyarakat tertinggal. "Ini bedanya dengan neoliberal bahwa pemerintah kadang-kadang hanya wasit. Di kita tidak, pemerintah harus turun tangan, harus bela rakyat," kata dia.

Soal investasi, Prabowo menegaskan, pihaknya selalu terbuka. Dia selalu mendukung investasi asing, tetapi tentunya tidak boleh mematikan ekonomi rakyat. Pemerintah harus memperkuat koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

"Kita harus alirkan dana lebih, yang masif, tidak tanggung-tanggung untuk kesejahteraan rakyat," kata dia.

Soal ini, kata dia, sudah dirintis pemeritah SBY dalam bentuk KUR, PNPM dan dana bergulir. Dana bergulir Rp5 triliun, ujar dia, bisa menghidupkan 12 juta orang.

"Jadi, kita tidak anti investasi asing. Silakan ke Indonesia, tetapi bawa uang, jangan pakai uang Indonesia. Jadi, silakan masuk, bawa uang sendiri," kata dia. (asp)


© VIVA.co.id

Read More »
08.58 | 0 komentar

MENGAPA PRABOWO 'DITAKUTI' OLEH SEBAGIAN JENDERAL?

"MENGAPA PRABOWO 'DITAKUTI' OLEH SEBAGIAN JENDERAL?"
MENANGIS ANDA MEMBACA INI KAWAN...!!!
Ok banyak yang minta topik kenapa Prabowo ditakuti sebagian jendral hingga mrka mau gagalkannya sgla cara ya
1. Kita bahas fakta knpa prabowo08 ditakuti sbgian jenderal purn ? Bgtu takutnya mreka shgga cari cara utk gagalkan 08
2. Prabowo biasa dipanggil "08" atau koslap (kosong lapan, Danjen Kopassus ke - 8) memang beda dgn jenderal2 lain. Dia punya keistimewaan
3. Kita tahu dari fakta sejarah, Prabowo Subianto adalah mantan menantu Pak Harto, Presiden RI yang sangat berkuasa selama 32 tahun
4. Kita tahu, Prabowo adalah perwira TNI paling cermerlang di jaman Pak Harto berkuasa. Saking cemerlangnya, dia diambil jadi mantu Presiden
5. Kami sdh infokan kemarin, bhw Prabowo menikah dgn Titiek Hediato Hariadi Suharto thn 1983 karena dimakcomblangi Jendral Benny Moerdani
6. Saat itu Mayor Prabowo staf khusus Menhamkam/Pangab Jend Moerdani. Prabowo jadi menantu, sukses di semua penugasan, karirnya melejit
7. Prabowo dlm usia 46 tahun sudah berpangkat Letjen dgn jabatan Pangkostrad. Namun, bukan semua itu yg membuat Prabowo ditakuti jendral2
8. Prabowo ditakuti sebagian jenderal karena :
"HE KNOWS TOO MUCH"
Dia tahu terlalu banyak
Mengenai apa ?
Mari kita urai semuanya
9. Prabowo tahu terlalu banyak tentang :
1. Siapa2 saja jenderal yang kekayaannya tidak wajar
2. Tahu dari mana asalnya, siapa cukongnya
10.
3. Prabowo tahu sisi kelam /catatan kejahatan /kelemahan/ dosa2/ integritas para jendral itu
4. Prabowo tahu sejarah mereka
11.
5. Prabowo tahu jenderal mana yang benar loyal pada negara
6. Prabowo tahu jenderal mana penjual negara, pengkhinat
12.
7. Prabowo tahu jenderal mana yang jenderal salon, tak pernah perang, penakut, pengecut.
8. Tahu siapa jenderal kacung mafia cina
13.
9. Prabowo tahu siapa jenderal yg suka bocorkan & jual informasi rahasia negara ke negara asing
10. Tahu jendral mana piaraan asing
14.
11. Prabowo tahu jendral mana yang jadi beking mafia kayu, mafia tambang, mafia penyelundupan BBM bersubsidi, mafia pencurian ikan dst
15.
12. Prabowo tahu jenderal2 pemilik tambang & HPH Ilegal
13. Tahu jenderal2 tukang cuci uang haram
14. Tahu dimana uang tsb disimpan
16. Prabowo tahu siapa jenderal2 yg terlibat rekayasa penculikan, penghilangan, pembunuhan 13 warga yang mendompleng ops Tim Mawar 1998
17. Banyak lagi rahasia hitam, kebusukan para jend purn itu yang diketahui Prabowo . Knpa dia bisa tahu info RHS yg orang lain tdk tahu?
18. Karena : 1. Prabowo adalah menantu presiden yang ketika perseteruannya dgn LB Moerdani terjadi pada 1985 - 1998 : PERAN PRABOWO SENTRAL
19. Ketika Pak Harto temukan bukti2 Moerdani benar telah merencanakan rekayasa konfrontasi Suharto vs Islam, Pak Harto percayai Prabowo
20. Pak Harto percayai Prabowo pada mulanya sebatas pemberi saran thdp kebijakan2 Pak Harto di ABRI saja, termasuk promosi perwira ABRI
21. Meski peran Prabowo awalnya sebatas saran pada Pak Harto terkait ABRI, namun hampir semua pati ABRI saat itu promosi berkat Prabowo
22. Di luar perwira ABRI Genk Moerdani, semua kolonel & jenderal di ABRI tdk luput dr pantauan, keterlibatan, bantuan Prabowo dlm promosinya
23. Silahkan tanya jend2 tua yg dulu msh aktif di jaman Pak Harto 1985-1998, apakah mrka bisa promosi jadi jendral tnpa bantuan Prabowo?
24. Jawabnya : BISA ! Tapi hanya segelintir. Yakni para perwira binaan Moerdani (yg anti islam, islam phobia) dan "perwira tertentu"
25. Perwira tertentu itu adalah perwira2 yg atas pengamatan dan pantau Pak Harto sendiri, dinilai cakap dan layak promosi. Jmlhnya ga banyak
26. Pasca Pak Harto Mualaf dan naik haji, peran Prabowo jauh lebih besar sampai ke ranah politik. Periode itu tahun 1990-1998
27. Prabowo mendapat kepercayaan luar biasa besar dari Pak Harto sampai ke masalah2 politik, termasuk pembinaan tokoh2 islam
28. Banyak kader2 pemuda Islam yg kini jadi tokoh besar di bidangnya masing2 yg berutang jasa besar kepada Prabowo. Apakah mereka ingat?
29. Puluhan bahkan mungkin ratusan tokoh Islam dulu "dibantu dibesarkan" Prabowo dgn buka akses ke Pak Harto, Cendana, Politik, bisnis dll
30. Kita sebut saja contohnya: Din Syamsudin, Yusril Ihza Mahendra, Idrus Marham, Jimly Assidiqie, Hadjrianto Tohari, dll. Panjang daftarnya
31. Knpa sbgan dr mereka kini mlah tdk dekat, ada yg musuhi Prabowo ?
1. Salah paham
2. Emang bejat ga tahu diri hehe
3. Mental khianat
32. Para jendral dan sebagian tokoh sipil Indonesia yang kini bersatu menjegal prabowo dgn segala cara : takut hukuman, takut balas dendam
33. Mereka kenal Prabowo, tahu sifat & karakter Prabowo yg tdk mentolerir perbuatan /tindakan pengkhianatan thdp negara. Mrka takut sama 08
34. Prabowo memang tokoh unik, hasil psikotes thdp dirinya : Ultra Patriotik. IQ : 152 (jenius).
Orang ini = BERBAHAYA BAGI MUSUH NEGARA
35. Salah satu contoh bukti ultra patriotiknya Prabowo adalah obsesinya mau jadi presiden RI. Otak & hatinya panas melihat RI tersia2kan
36. Padahal untuk apa Prabowo yg sdh kaya raya, punya usaha dimana2, punya sahabat dan teman para Raja, capek2 mau jadi Presiden Indonesia?
37. Bayangkan usaha Prabowo utk jadi Presiden, dia terpaksa berhadapan dgn semua musuhnya yg bersatu melawan dia. Ga peduli. Maju terus
38. Prabowo sdh 3 kali berusaha jadi presiden/wapres : 1. Konvensi Golkar 2004, Pilpres 2009 bersama Mega dan 2014 bersama Hatta Rajasa
39. Ketika ditanya kenapa Prabowo ngotot jd Presiden ? Jawabnya tegas. Mau Wujudkan Indonesia Raya !!
Apakah motif Prabowo itu menakutkan?
40. Ya ! Maksud Prabowo jadi Presiden utk "Mewujudkan Indonesia Raya" itu benar2 menakutkan bagi : Musuh2 negara, aseng, asing, antek !
41. Kenapa? Karena karakter Prabowo itu keras, satu kata dan perbuatan, konsekwen, tekad baja. Kalau dia jd presiden, musuh2 negara : MATI !
42. Setidak2nya, para musuh negara itu, jendral2 korup itu, antek asing aseng dan beking mafia itu, kabur duluan, ditangkap atau tiarap !
43. Sebaliknya, jk jokowi jd presiden, semua bandit2/ mafia, asing, aseng, antek : pesta pora, bersuka cita : Indonesia jadi BANCAKAN MEREKA
44. Itu sebabnya, sungguh mengherankan kok masih ada saja segelitir rakyat, mata dan hatinya tertutup. Bodoh? Bayaran? Antek? Atau gila?
45. Pilpres 2014 adalah pertarungan antara :
Patriot Vs Pengkhianat
Pahlawan vs Penjahat
Guru vs Murid Murtad
Manusia vs Setan Laknat !!
Add fb @Berto Leonard utk mendapatkan info2 yg ter Update…!!
SEBARKAN KE SELURUH PELOSOK INDONESIA...MERDEKA BUNG...!! — bersama Kamaruzzaman Debby dan 6 lainnya.
Foto: "MENGAPA PRABOWO 'DITAKUTI' OLEH SEBAGIAN JENDERAL?"
MENANGIS ANDA MEMBACA INI KAWAN...!!!
Ok banyak yang minta topik kenapa Prabowo ditakuti sebagian jendral hingga mrka mau gagalkannya sgla cara ya
1. Kita bahas fakta knpa prabowo08 ditakuti sbgian jenderal purn ? Bgtu takutnya mreka shgga cari cara utk gagalkan 08
2. Prabowo biasa dipanggil "08" atau koslap (kosong lapan, Danjen Kopassus ke - 8) memang beda dgn jenderal2 lain. Dia punya keistimewaan
3. Kita tahu dari fakta sejarah, Prabowo Subianto adalah mantan menantu Pak Harto, Presiden RI yang sangat berkuasa selama 32 tahun
4. Kita tahu, Prabowo adalah perwira TNI paling cermerlang di jaman Pak Harto berkuasa. Saking cemerlangnya, dia diambil jadi mantu Presiden
5. Kami sdh infokan kemarin, bhw Prabowo menikah dgn Titiek Hediato Hariadi Suharto thn 1983 karena dimakcomblangi Jendral Benny Moerdani
6. Saat itu Mayor Prabowo staf khusus Menhamkam/Pangab Jend Moerdani. Prabowo jadi menantu, sukses di semua penugasan, karirnya melejit
7. Prabowo dlm usia 46 tahun sudah berpangkat Letjen dgn jabatan Pangkostrad. Namun, bukan semua itu yg membuat Prabowo ditakuti jendral2
8. Prabowo ditakuti sebagian jenderal karena :
"HE KNOWS TOO MUCH"
Dia tahu terlalu banyak
Mengenai apa ?
Mari kita urai semuanya
9. Prabowo tahu terlalu banyak tentang :
1. Siapa2 saja jenderal yang kekayaannya tidak wajar
2. Tahu dari mana asalnya, siapa cukongnya
10.
3. Prabowo tahu sisi kelam /catatan kejahatan /kelemahan/ dosa2/ integritas para jendral itu
4. Prabowo tahu sejarah mereka
11.
5. Prabowo tahu jenderal mana yang benar loyal pada negara
6. Prabowo tahu jenderal mana penjual negara, pengkhinat
12.
7. Prabowo tahu jenderal mana yang jenderal salon, tak pernah perang, penakut, pengecut.
8. Tahu siapa jenderal kacung mafia cina
13.
9. Prabowo tahu siapa jenderal yg suka bocorkan & jual informasi rahasia negara ke negara asing
10. Tahu jendral mana piaraan asing
14.
11. Prabowo tahu jendral mana yang jadi beking mafia kayu, mafia tambang, mafia penyelundupan BBM bersubsidi, mafia pencurian ikan dst
15.
12. Prabowo tahu jenderal2 pemilik tambang & HPH Ilegal
13. Tahu jenderal2 tukang cuci uang haram
14. Tahu dimana uang tsb disimpan
16. Prabowo tahu siapa jenderal2 yg terlibat rekayasa penculikan, penghilangan, pembunuhan 13 warga yang mendompleng ops Tim Mawar 1998
17. Banyak lagi rahasia hitam, kebusukan para jend purn itu yang diketahui Prabowo . Knpa dia bisa tahu info RHS yg orang lain tdk tahu?
18. Karena : 1. Prabowo adalah menantu presiden yang ketika perseteruannya dgn LB Moerdani terjadi pada 1985 - 1998 : PERAN PRABOWO SENTRAL
19. Ketika Pak Harto temukan bukti2 Moerdani benar telah merencanakan rekayasa konfrontasi Suharto vs Islam, Pak Harto percayai Prabowo
20. Pak Harto percayai Prabowo pada mulanya sebatas pemberi saran thdp kebijakan2 Pak Harto di ABRI saja, termasuk promosi perwira ABRI
21. Meski peran Prabowo awalnya sebatas saran pada Pak Harto terkait ABRI, namun hampir semua pati ABRI saat itu promosi berkat Prabowo
22. Di luar perwira ABRI Genk Moerdani, semua kolonel & jenderal di ABRI tdk luput dr pantauan, keterlibatan, bantuan Prabowo dlm promosinya
23. Silahkan tanya jend2 tua yg dulu msh aktif di jaman Pak Harto 1985-1998, apakah mrka bisa promosi jadi jendral tnpa bantuan Prabowo?
24. Jawabnya : BISA ! Tapi hanya segelintir. Yakni para perwira binaan Moerdani (yg anti islam, islam phobia) dan "perwira tertentu"
25. Perwira tertentu itu adalah perwira2 yg atas pengamatan dan pantau Pak Harto sendiri, dinilai cakap dan layak promosi. Jmlhnya ga banyak
26. Pasca Pak Harto Mualaf dan naik haji, peran Prabowo jauh lebih besar sampai ke ranah politik. Periode itu tahun 1990-1998
27. Prabowo mendapat kepercayaan luar biasa besar dari Pak Harto sampai ke masalah2 politik, termasuk pembinaan tokoh2 islam
28. Banyak kader2 pemuda Islam yg kini jadi tokoh besar di bidangnya masing2 yg berutang jasa besar kepada Prabowo. Apakah mereka ingat?
29. Puluhan bahkan mungkin ratusan tokoh Islam dulu "dibantu dibesarkan" Prabowo dgn buka akses ke Pak Harto, Cendana, Politik, bisnis dll
30. Kita sebut saja contohnya: Din Syamsudin, Yusril Ihza Mahendra, Idrus Marham, Jimly Assidiqie, Hadjrianto Tohari, dll. Panjang daftarnya
31. Knpa sbgan dr mereka kini mlah tdk dekat, ada yg musuhi Prabowo ?
1. Salah paham
2. Emang bejat ga tahu diri hehe
3. Mental khianat
32. Para jendral dan sebagian tokoh sipil Indonesia yang kini bersatu menjegal prabowo dgn segala cara : takut hukuman, takut balas dendam
33. Mereka kenal Prabowo, tahu sifat & karakter Prabowo yg tdk mentolerir perbuatan /tindakan pengkhianatan thdp negara. Mrka takut sama 08
34. Prabowo memang tokoh unik, hasil psikotes thdp dirinya : Ultra Patriotik. IQ : 152 (jenius).
Orang ini = BERBAHAYA BAGI MUSUH NEGARA
35. Salah satu contoh bukti ultra patriotiknya Prabowo adalah obsesinya mau jadi presiden RI. Otak & hatinya panas melihat RI tersia2kan
36. Padahal untuk apa Prabowo yg sdh kaya raya, punya usaha dimana2, punya sahabat dan teman para Raja, capek2 mau jadi Presiden Indonesia?
37. Bayangkan usaha Prabowo utk jadi Presiden, dia terpaksa berhadapan dgn semua musuhnya yg bersatu melawan dia. Ga peduli. Maju terus
38. Prabowo sdh 3 kali berusaha jadi presiden/wapres : 1. Konvensi Golkar 2004, Pilpres 2009 bersama Mega dan 2014 bersama Hatta Rajasa
39. Ketika ditanya kenapa Prabowo ngotot jd Presiden ? Jawabnya tegas. Mau Wujudkan Indonesia Raya !!
Apakah motif Prabowo itu menakutkan?
40. Ya ! Maksud Prabowo jadi Presiden utk "Mewujudkan Indonesia Raya" itu benar2 menakutkan bagi : Musuh2 negara, aseng, asing, antek !
41. Kenapa? Karena karakter Prabowo itu keras, satu kata dan perbuatan, konsekwen, tekad baja. Kalau dia jd presiden, musuh2 negara : MATI !
42. Setidak2nya, para musuh negara itu, jendral2 korup itu, antek asing aseng dan beking mafia itu, kabur duluan, ditangkap atau tiarap !
43. Sebaliknya, jk jokowi jd presiden, semua bandit2/ mafia, asing, aseng, antek : pesta pora, bersuka cita : Indonesia jadi BANCAKAN MEREKA
44. Itu sebabnya, sungguh mengherankan kok masih ada saja segelitir rakyat, mata dan hatinya tertutup. Bodoh? Bayaran? Antek? Atau gila?
45. Pilpres 2014 adalah pertarungan antara :
Patriot Vs Pengkhianat
Pahlawan vs Penjahat
Guru vs Murid Murtad
Manusia vs Setan Laknat !!
Add fb @Berto Leonard utk mendapatkan info2 yg ter Update…!!
SEBARKAN KE SELURUH PELOSOK INDONESIA...MERDEKA BUNG...!!

Read More »
08.45 | 0 komentar

22 Mei 2014

KESAKSIAN SUMITRO TENTANG PRABOWO


Mitro - Bio Crop Outer copy

Soeharto memendam prasangka buruk bahwa Prabowo bersama-sama Habibie sedang menggalang persekongkolan untuk menumbangkannya. Sebagaimana tradisi dalam riwayat raja-raja Mataram yang dikudeta oleh kalangan istana sendiri, maka “putra mahkota” Prabowo agaknya tengah mengatur siasat untuk mendongkel sang raja, Soeharto. Cerita-cerita semacam ini sudah beredar luas sedari awal tahun 1998 dan menjadi bahan spekulasi politik yang semakin panas di kalangan masyarakat. Menurut Sumitro, dalam hal ini Soeharto rupanya telah termakan isu yang diembuskan putra-putrinya—yang di hari-hari terakhir memiliki hubungan yang semakin buruk dengan Prabowo.
Cerita-cerita miring boleh jadi meluas dengan cepat, sebab diketahui bahwa di luar istana terdapat pula sebarisan perwira tinggi ABRI yang memandang dengan penuh perasaan cemburu terhadap karier Letjen Prabowo yang menanjak dengan pesat. “Kenaikan pangkat yang cepat dari anak saya itu sudah jelas mengundang ketidaksenangan bagi beberapa orang. Kondisi kecemburuan seperti ini sudah merupakan sifat umum dari manusia di manapun.[1]
Salah satunya yang tidak lagi menyembunyikan rasa bencinya terhadap Prabowo ialah Pangab Jenderal Wiranto. Bersama kelompoknya, niscaya Wiranto dalam posisi terus mengintai, dan bahkan mungkin sebagai pihak yang berusaha mengambil inisiatif. Ia tentu tak menyia-nyiakan kesempatan begitu melihat ada peluang agar dapat menghempaskan Prabowo. Wiranto di sekitar tanggal 21 Mei 1998 kabarnya mengeluh kepada mantan Presiden/Pangti Soeharto mengenai pergerakan Prabowo. Mendengar keluhan itu, Soeharto langsung “menginstruksikan” agar Prabowo segera dilepaskan dari pasukan. “Copot saja Prabowo dari Kostrad!” Wiranto, masih menurut sumber yang sangat dipercaya pula, konon sempat bertanya lagi apakah Prabowo harus dilempar ke teritorial, ke Irian Jaya, atau entah ke mana? “Ndak usah, kasih saja pendidikan. Bukankah keluarganya intelektual,” ser­gah Soeharto, tampaknya ia hendak menyindir keluarga Sumitro.
Malam hari sebelum pengumuman, Prabowo menelepon kepada ayahnya memberitahu bahwa ia akan disingkirkan. “Saya dikhianati,” kata Prabowo. Oleh siapa? “Papi nggak percaya kalau saya bilang, saya dikhianati oleh mertua. Dia bilang kepada Wiranto, singkirkan saja Prabowo dari pasukan,” tambah Prabowo.
Prabowo tentu saja sangat kecewa dengan perlakuan keluarga Cendana. Untuk membela diri, Prabowo menulis surat kepada Soeharto. Tapi, justru surat Prabowo itu dinilai tak pantas oleh keluarga Cendana.
Tanggal 25 Mei 1998: Letjen Prabowo Subianto resmi dicopot dari Pangkostrad, dan dikirim ke Bandung untuk menjadi Komandan Sesko ABRI. Tak berapa lama, setelah pemeriksaan Dewan Kehormatan Perwira (DKP), bahkan karier militer Prabowo diakhiri oleh Wiranto. Akhirnya, Prabowo memutuskan untuk memilih menjadi pengusaha di luar negeri, guna menyusun hidup yang baru. Sebelum berangkat, ia sempat melapor kepada Pangab Jenderal TNI Wiranto, dan kala itu Wiranto sempat berkomentar singkat, “Ya, sudah pergi saja ke luar, tak apa-apa. Jauhkan pikiran kamu dari Mahmil!”

prabowo007
Menyaksikan tragedi yang menimpa Prabowo, tentu saja sebagai orang tua, Sumitro menganggap itu sebagai cobaan yang berat dalam kehidupan. Tapi, itu tidak lantas membuat keluarga ini harus merasa terpukul apalagi terpuruk. Dengan suara tetap lantang dan tenang Sumitro berkata, “Prabowo mesti tetap tabah dan lebih kuat lagi. Masalahnya bukan ia dipukul, tapi bagaimana ia bisa bertahan. Saya bangga Prabowo tabah. Ujian buat saya dan isteri saya dalam kehidupan jauh lebih dari itu, habis dari menteri lalu tiba-tiba jatuh jadi buronan, ha..ha..ha!”
Kepada Prabowo, Sumitro cuma berujar singkat, “Begini, sekarang kamu dijadikan sasaran macam-macam. Jangan harapkan teman-teman kamu sendiri akan membantu. Orang yang berhutang budi terhadap kamu pun bakal meninggalkan kamu. Tapi, dalam keadaan segelap apa pun niscaya masih ada orang-orang baru yang akan membantu. Jadi harus tabah. Kedua, jangan merasa kasihan pada dirimu sendiri, jangan menjadi dendam, ini kehidupan sendiri, hadapilah!” kata Sumitro seraya mengingatkan bahwa Sumitro sudah beberapa kali mengalami hal serupa bahkan yang lebih buruk dari itu.

Di depan DKP, Prabowo mengungkapkan mengenai daftar sembilan aktivis yang harus diculik yang ia dapat dari atasannya, seraya mengatakan bahwa kesembilan orang itu menjadi tanggung jawabnya dan telah ia lepaskan serta semuanya masih hidup.

… Berarti yang mesti ditelusuri lebih jauh ialah siapakah yang memberi perintah kepada Prabowo untuk menculik, KSAD-kah, Pangab atau Pangti-kah?

Tindakan pertama ABRI segera setelah Soeharto lengser ialah berusaha mengungkap kasus penculikan para aktivis pro-demokrasi. Begitu Pangab Jenderal TNI Wiranto mengumumkan tujuh oknum anggota Kopassus sebagai tersangka kasus penculikan, banyak pihak memuji langkah tersebut, menilai bahwa ABRI tengah menuju perkembangan yang menggembirakan, karena sudah mulai transparan jika ada anggotanya terlibat dalam perkara besar.[2]
Wiranto lantas seakan-akan hendak memuaskan tuntutan masyarakat dengan membentuk Dewan Kehormatan Perwira (DKP), yang diketuai Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Subagyo H.S. DKP kemudian memeriksa Letnan Jenderal Prabowo Subianto, Mayor Jenderal Muchdi P.R. dan Kolonel Chairawan. Hasilnya, Prabowo Subianto diakhiri masa dinasnya (istilah lain dari diberhentikan dengan hormat) di ABRI. Sedangkan, Muchdi dan Chairawan dibebaskan dari semua tugas dan jabatan struktural di ABRI. Mereka terkena sanksi sehubungan dengan kasus penculikan yang dilakukan oleh Tim Mawar Kopassus, antara bulan Februari 1998 hingga Maret 1998. Tercatat belasan aktivis pro-demokrasi diculik, tiga di antaranya dapat meloloskan diri, yaitu Desmond Mahesa, Pius Lustrilanang, dan Nezar Patria.
Namun belakangan terbukti bahwa langkah Wiranto tersebut lebih bermakna politis—kalau tidak boleh dikatakan mengelabui publik—ketimbang kesungguhan institusi ABRI sendiri untuk mengungkap satu per satu kasus yang mengemuka di masyarakat, sebagai cermin kesungguhan ABRI untuk memperbaiki citra buruk dirinya. Kasus orang hilang sampai sekarang tidak terjawab tuntas. Padahal, Prabowo sudah mengakui perbuatannya. Di depan DKP, Prabowo mengungkapkan mengenai daftar sembilan aktivis yang harus diculik yang ia dapat dari atasannya, seraya mengatakan bahwa kesembilan orang itu menjadi tanggung jawabnya dan telah ia lepaskan serta semuanya masih hidup.[3] Bahkan, Haryanto Taslam kabarnya mengakui bahwa ia masih hidup karena Prabowo yang melepaskan.
Mengapa setelah DKP memeriksa Prabowo dan kawan-kawannya, pengusutan kasus penculikan lantas berhenti. Bukankah yang bersangkutan sudah bersedia dan menyatakan lebih senang bila kasusnya diselesaikan di mahkamah militer, sebagaimana keinginan masyarakat luas yang sangat berharap agar kasus ini dapat dituntaskan di mahkamah militer.[4] Dalam kamus tentara tentu saja mustahil ada operasi tanpa perintah atasan. Atau dengan kata lain, tidaklah mungkin seorang tentara berani mengambil inisiatif untuk melakukan operasi militer tanpa diperintah atasannya, apa pun pangkatnya. Berarti yang mesti ditelusuri lebih jauh ialah siapakah yang memberi perintah kepada Prabowo untuk menculik, KSAD-kah, Pangab atau Pangti-kah? Dengan mengikuti alur pertanyaan ini, maka tidak dilanjutkannya kasus Prabowo ke mahkamah militer adalah karena bila diungkap maka kemungkinan akan melibatkan banyak jenderal atau membongkar rahasia di Angkatan Darat sendiri.

Gedung_DPR_mei_1998

Di sini segera terlihat jelas muatan politis (baca: taktik dan tipu daya) dari langkah Wiranto. Pertama, ia berusaha merebut simpati publik dengan cara mengajukan sejumlah oknum Kopassus tadi dan bila perlu tidak segan-segan menjatuhi mereka hukuman.[5] Jadi, jatuhnya vonis hukuman buat anggota Tim Mawar seakan-akan hanya bermaksud menyenangkan publik. Tak terhindarkan muncul kesan bahwa ketujuh anggota Kopassus itu menjadi pihak yang dikorbankan. Penilaian ini didasarkan pada logika dalam kemiliteran bahwa tidak mungkin seorang berpangkat mayor dapat mengambil inisiatif sendiri atas suatu operasi.[6]
Kedua, dengan menangani lebih dahulu dan sesegera mungkin kasus penculikan yang melibatkan Prabowo, berarti terbuka luas kesempatan bagi Wiranto untuk menggeser Prabowo. Dan memang kelak, melalui temuan-temuan yang diperoleh DKP (Dewan Kehormatan Perwira), Wiranto punya alasan kuat untuk menamatkan karier Prabowo Subianto di milker. Ketika kemudian penyelidikan atas kasus ini seakan- akan terhenti, dengan tanpa melacak lebih lanjut ke tingkat yang lebih tinggi guna mencari tabu siapa yang memberi perintah kepada Prabowo, publik segera sadar bahwa pengungkapan kasus penculikan semata-mata mempunyai sasaran tunggal: yakni menggeser Prabowo.

“Saya rasa, keadilan terhadap perihal Prabowo Subianto terlihat kabur dan ngawur, karena seakan-akan segala tenaga menghujat terpusat pada Kopassus dan Prabowo Subianto. Mengapa segala sesuatu berada di pundaknya? Padahal, kita semua tahu banyak kesatuan lain dan perwira tinggi lain yang terlibat di situ.”

Setelah berhasil menyingkirkan Prabowo, Jenderal TNI Wiranto kemudian dengan leluasa melakukan konsolidasi (baca: pergeseran-pergeseran personel) di dalam tubuh TNI. Langkah tersebut dinilai banyak kalangan sebagai upaya membersihkan tubuh ABRI dari pengaruh Prabowo.[7]Puncak upaya marginalisasi para perwira yang dekat dengan Prabowo ialah dilakukannya mutasi besar-besaran 100 perwira ABRI pada 4 Januari 1999. Dengan demikian, Jenderal Wiranto telah melakukan usaha-usaha serius dan sistematis guna menyingkirkan Prabowo dan kelompoknya, di mana upaya pengungkapan kasus penculikan aktivis sebagai entry point-nya.
“Saya rasa, keadilan terhadap perihal Prabowo Subianto terlihat kabur dan ngawur, karena seakan-akan segala tenaga menghujat terpusat pada Kopassus dan Prabowo Subianto. Mengapa segala sesuatu berada di pundaknya? Padahal, kita semua tahu banyak kesatuan lain dan perwira tinggi lain yang terlibat di situ.” kata Sumitro suatu waktu kepada wartawan.[8] Sumitro mengeluarkan uneg-unegnya karena menyaksikan bahwa isi pemberitaan dari kalangan media cetak dan elektronika sudah termakan black propaganda yang diembuskan oleh pihak tertentu. Kalangan media massa banyak mengembangkan opini dari sumber-sumber yang obyektivitasnya diragukan. Dengan demikian, harapan akan keadilan dan sense of fair treatment masih kurang.
Sumitro mengatakan, dirinya menghargai dan menghormati Prabowo Subianto sebagai ksatria, serta berani mengambil tanggung jawab jika dalam melaksanakan tugasnya ada kesalahan. “Namun, tak boleh lupa, ada atasannya. Bahwa kalau ada penyimpangan di dalam ABRI maka ada dua tingkat atasannya yang harus tahu.”
Ayah Prabowo juga mengemukakan keheranannya mengapa pada tanggal 14 Mei 1998, Pangab Jenderal TNI Wiranto tetap ngotot untuk memberangkatkan semua jenderal penting ke Malang guna menghadiri upacara peralihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) dari Divisi I ke Divisi II, padahal sudah ada info bahwa bakal ada kerusuhan. Prabowo pun telah mengingatkan bahwa akan terjadi sesuatu, sehingga berpendapat agar Pangab dan jenderal-jenderal yang menjabat posisi-posisi strategis—seperti Kasad, Danjen Kopassus, dan juga dirinya (Pangkostrad)—agar tidak pergi ke Malang. Prabowo mengatakan apakah tidak sebaiknya ia berada di Jakarta untuk berjaga-jaga membantu Pangdam Mayjen Sjafrie Sjamsuddin. Namun, Wiranto tetap bersikeras bahwa semua harus berangkat meninggalkan Jakarta! Ini berarti mengorbankan keamanan Jakarta, untuk sebuah acara tak begitu penting di Malang, sebab penyerahan pasukan di Malang sebenarnya cukup dilakukan oleh Panglima Divisi! Padahal pada tanggal 12 Mei 1998 di Jakarta Barat sudah terjadi kerusuhan. Keadaan di Jakarta dengan cepat memburuk akibat jatuhnya korban tertembaknya mahasiswa Trisakti.

mei 1998

Seorang sumber harian Berita Buana[9] menyebutkan bahwa Prabowo berani mengingatkan Wiranto—bahkan konon mengusulkan agar acara di Malang ditunda[10]— karena dirinya mendapat informasi dari Kedutaan AS bahwa akan terjadi gerakan sejuta massa di Jakarta.
Singkat cerita, dalam desain rekayasa itu (kalau memang benar itu ada), Mabes ABRI tetap pada rencana semula: acara di Malang jalan terus! Pangab akan tetap hadir, Pangkostrad hadir juga, KSAD juga turut ke sana. Padahal, dalam keterangannya kepada TGPF, Kepala BIA menegaskan bahwa karena peristiwa penembakan di Trisakti, semua pasukan harus siaga satu![11]
Mengenai hal ini, Sumitro menilai sikap Wiranto sangatlah janggal dan menduga keras tersembunyi maksud-maksud terselubung mengapa ia “mengungsikan” para pimpinan pasukan ke luar Jakarta. Mengapa hanya Sjafrie yang disisakan di Jakarta dengan jumlah pasukan sedikit? Apakah ini sudah didesain? Bagi Sumitro hal inilah yang harus diusut tuntas guna menyingkap misteri tebal di seputar kerusuhan 13-15 Mei 1998. [Sumitro menilai sungguh aneh rekomendasi yang dikemukakan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) agar pemerintah mengusut pertemuan berbagai tokoh tanggal 14 Mei 1998 di Makostrad].
Pertanyaan selanjutnya, kelompok manakah yang membuat rekayasa sehingga dengan sengaja menyebabkan jatuhnya martir pada peristiwa penembakan mahasiswa Trisakti, yang terbukti sangat berperanan dalam memanaskan gerakan massa?
Pagi hari tanggal 14 Mei 1998, rombongan jenderal melenggang ke Malang. Di saat yang sama kerusuhan sudah meletus di Jakarta! Dan, baru pukul 12.30 rombongan tiba di Jakarta, saat situasi sudah sangat terlambat, sudah banyak gedung yang dibakar massa, sebagian Jakarta sudah hangus! Ketika Jakarta benar-benar porak-poranda, masyarakat dibuat keheranan karena Ibu Kota seakan-akan lowong tanpa adanya penjagaan pasukan sama-sekali, sehingga kerusuhan dengan cepat meluas. Hasil rekayasa siapakah ini?
+++
“Jelas sudah, dalam soal ini satu dari dua orang itu: Habi­bie atau Wiranto, pasti berdusta!” tegas Sumitro…

Presiden transisi B.J. Habibie di depan Forum Editor Asia-Jerman II di Istana Merdeka, tanggal 15 Februari 1999 mengatakan, bahwa sehari setelah Soeharto tumbang, Prabowo melakukan konsentrasi pasukan. “Pasukan di bawah komando seseorang, yang namanya tidak usah disembunyikan lagi, Jenderal Prabowo, sedang mengkonsentrasikan di beberapa tempat termasuk di rumah saya,” ucap Habibie.
Anehnya, keterangan Habibie itu langsung dibantah oleh Pangab Jenderal TNI Wiranto, dengan mengatakan bahwa keberadaan pasukan itu sesuai dengan prosedur tetap: mengamankan presiden dan wapres di saat genting. Padahal, dalam pernyataannya Habibie menyebutkan bahwa informasi tersebut bersumber dari Wiranto. Mantan Pangdam Jaya Syafrie Sjamsuddin, memastikan bahwa itu bukan pasukan Kostrad, melainkan pasukan Kopassus. Dalam briefing Pangab di Markas Komando Garnisun, 14 Mei 1998, Pangab memerintahkan kepada Pangkostrad Prabowo untuk mengamankan instalasi-instalasi vital. Dankoman (Komandan Korps Marinir) diperintahkan mengamankan konsulat dan kedubes, sedangkan Danjen Kopassus disuruh mengamankan RI-1 dan RI-2. Semua tugas itu di bawah kendali Pangkoops Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin.[12]
“Jelas sudah, dalam soal ini satu dari dua orang itu: Habi­bie atau Wiranto, pasti berdusta!” tegas Sumitro, seraya menambahkan ia tidak tahu apa maksud Habibie melontarkan isu semacam itu. Sumitro menceritakan pula bahwa sewaktu Habibie terpilih untuk memangku jabatan Wakil Presiden RI, Habibie secara khusus datang menemui Sumitro untuk mohon doa restunya agar ia dapat menjalankan tugas yang dipercayakan tersebut dengan sebaik-baiknya. Oleh sebab itu, Sumitro sangat kecewa atas pernyataan-pernyataan Habibie yang selalu mendiskreditkan Prabowo. Sumitro juga membantah isue bahwa Prabowo sempat memaksakan niat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat, bahkan Panglima ABRI.
“Itu cuma black propaganda yang dilancarkan oleh orang-orang yang membenci Prabowo. Anda sekarang sudah bisa menduga-duga siapa-siapa orang tersebut. Dan, terutama saya yakin dugaan Anda pasti tepat!” tutur Sumitro.

*) Dicuplik dari buku Aristides Katoppo, dkk., Sumitro Djojohadikusumo: Jejak Perlawanan Begawan Pejuang (Jakarta: Sinar Harapan, 2000), Bab 46, dengan judul asli “Soal Prabowo”.

Read More »
08.33 | 0 komentar