Kamu Pengunjung Ke

Arsip Blog

Get Connection

TRAVEL MURAH KE BANDUNG
Jalan-jalan ke Kota Wisata Bandung dengan layanan yang ramah dan berpengalaman, membuat Anda terasa nyaman dalam mengisi liburan
kiostravel-id.blogspot.com

Koleksi Pakaian Terbaik
Temukan Pakaian Idaman dan sesuai Kebutuhan anda DISINI
dhifastore.blogspot.com

Ads by Dhifa Outlet

Site Info

ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free My Ping in TotalPing.com

Followers

Tampilkan postingan dengan label Jokowi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jokowi. Tampilkan semua postingan

13 Juli 2014

Sesumbar Klaim Menang, Ternyata Hasil Real Count Jokowi JK Kalah Telak di Mesir


islamedia.co jokowi jk

Klaim kemenangan yang dilakukan kubu Joko Widodo-Jusuf Kalla dinilai terlalu dini. Belajar dari pengalaman sebelumnya tim Jokowi-JK menggunakan data tidak valid untuk mengklaim kemenangan di luar negeri, seperti Arab Saudi dan Mesir.

"Prabowo justru menang di Mesir dan Jeddah. Sebaiknya kubu Jokowi hati-hati menggunakan data. Publik disodori informasi tidak valid," kata pengamat politik Igor Dirgantara kepada wartawan, Jumat (11/7).

Sebelumnya, Tim Sukses Jokowi-JK, Yuddy Chrisnandi pernah mengatakan mengatakan, hasil exit poll Arab Saudi pasangan nomor urut 2, meraih 75 persen suara dan pasangan nomor 1, mendapatkan 20 persen suara. Pun dengan di Mesir, kubu Jokowi-JK diberitakan menang tipis dengan 57 persen dan Prabowo-Hatta 42,9 persen. 

Kenyataannya, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah, mengumumkan hasil penghitungan suara Pilpres 2014, Prabowo-Hatta mendapat 51,22 persen dan Jokowi-JK 48,78 persen. Pun data Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Mesir, pasangan nomor urut 1 itu menang dengan mengantongi 70,2 persen. Jokowi-JK hanya mendapat 27,6 persen.

Melihat fakta tersebut, Igor menyarankan, agar jauh lebih baik jika semua pihak menunggu hasil penghitungan akhir yang dilakukan KPU pada 22 Juli mendatang. "Jangan justru mengintimidasi KPU dengan klaim bahwa quick count mereka yang benar. Otoritas tertinggi tetap ada di KPU," kata pengajar di Universitas Jayabaya itu.

Igor juga meminta agar kedua pihak bisa menahan diri dan belajar dari Pilpres 2009. Meski menang dengan selisih hitung cepat mencapai 20 persen lebih, tetapi SBY tetap menunggu hasil final dari KPU.[republika/im]
sumber http://www.islamedia.co/

Read More »
07.03 | 0 komentar

30 Juni 2014

Warga Natuna Kecewa Pada Jokowi


China put Natuna Islands (in box) on its map, as the islands located near the disputed South China Sea. (Map)

Sejumlah warga Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau mengaku kecewa karena Calon Presiden Joko Widodo tidak mengetahui persoalan perbatasan yang sedang terjadi di Laut China Selatan yang sebagiannya masuk dalam wilayah Natuna.

"Kecewa iya, karena bukan hanya nasib Natuna yang menjadi sengketa. Lokasinya saja enggak tahu, bagaimana nasibnya," kata warga Natuna, Agus Subagja, Jumat (27/6). 

Padahal, kata dia, di Laut China Selatan yang masuk wilayah Natuna, terdapat sumber gas yang menjadi aset negara dan harus diselamatkan dari rebutan asing.

"Di situ ada sumber migas, salah satu aset penyumbang devisa negara terbesar," kata Agus.

Seharusnya, kata Agus, sebagai calon kepala negara, Jokowi tahu permasalahan-permasalahan sensitif di berbagai daerah di Indonesia. Apalagi pemerintah selama ini sudah menegaskan pentingnya Natuna.

Sejak beberapa waktu lalu, kata dia, warga Natuna menyaksikan banyak personel dari Mabes TNI yang datang, itu menandakan ada penjagaan yang memang diperketat.

"Artinya oleh pusat Natuna dianggap penting sebagai daerah terluar NKRI," kata Agus bersemangat.

Sebelumnya, dalam debat calon presiden putaran ketiga bertema "Politik Internasional dan Ketahanan Nasional" pada Ahad malam (22/6) yang diikuti pasangan dua calon presiden, Jokowi mengatakan Indonesia tidak terlibat dalam konflik di wilayah Laut China Selatan. Bila memang dibutuhkan, Indonesia harus memberi manfaat dan bisa memberikan solusi.

"Dan saya kira lebih baik diselesaikan. Peran itu bisa dilakukan melalui strategi diplomasi yang sudah saya sampaikan," ujarnya.

Pada debat tersebut, Jokowi menyampaikan tiga strategi diplomasi, yaitu "G to G" atau "Government to Government", "B to B" atau "Bussiness to Bussiness" dan "G to B" atau "Government to Bussiness".

sumber http://www.republika.co.id/

Read More »
09.51 | 0 komentar

Terungkap Bohong, Jokowi Akhirnya Bungkam


Headline

Calon Presiden Joko Widodo (Jokowi) bungkam, saat ditanya mengapa ia tidak melaporkan kasus korupsi pengadaan bus TransJakarta ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Padahal untuk pertanyaan-pertanyaan lain yang diajukan oleh wartawan, ia bersedia menjawab.

Hal itu terjadi saat Jokowi meladeni wartawan yang mewawancarainya, usai ia memberikan klarifikasi harta kekayaan ke KPK terkait Pilpres. Saat itu, Jokowi menjawab pertanyaan wartawan soal harta kekayaannya, hingga perseteruan antara Ahok dan Menpora Roy Suryo terkait rekomendasi alih fungsi Stadion Lebak Bulus untuk Depo MRT dan Taman BMW.

Namun saat ditanya mengapa ia tidak melaporkan kasus dugaan korupsi pengadaan bus ke KPK, Jokowi hanya diam. Padahal sebelumnya Jokowi rajin melapor ke KPK, jika menerima hadiah seperti gitar Metallica dan helm dari Rossi.

Berkali-kali wartawan menyinggung mengapa ia tidak melaporkan kasus itu ke KPK, Jokowi tetap memilih mengunci mulutnya. Tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Gubernur (non aktif) DKI Jakarta itu.

Jokowi juga tidak memberikan tanggapan atas aksi unjuk rasa yang digelar oleh Banteng Keadilan Rakyat (BAKAR) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Puluhan massa aksi yang menggelar demonstrasi di depan gedung KPK menuding Jokowi telah berbohong terkait kasus dugaan korupsi pengadaan Bus TransJakarta.

"Jokowi bohong, jokowi belum parnah melapor ke KPK," teriak masa aksi di depan Gedung KPK saat Jokowi tengah memberi keterangan usai klarifikasi.

Sebelumnya, Jubir KPK,Johan Budi SP memastikan jika pihaknya belum pernah sekalipun menerima laporan soal dugaan korupsi pengadaan bus TransJakarta dari Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta maupun dari Pemprov DKI Jakarta.

"Tidak pernah," ucap Johan Budi, Selasa (17/6/2014) lalu.

Senada dengan pihak KPK, Pelaksana tugas (plt) Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ahok memastikan Jokowi belum pernah melaporkan kasus bus Transjakarta kepada KPK. "Pak Jokowi enggak pernah lapor KPK (soal kasus Bus Transjakarta). Enggak ada surat resminya," kata Ahok di Balai Kota, Jakarta belum lama ini.

Namun, Jokowi mengungkapkan, bahwa dirinya sudah melaporkan dugaan korupsi bus TransJakarta ke KPK. Hal tersebut tentunya bertolak belakang pernyataan yang disampaikan pihak KPK dan plt Gubernur.

"Waktu ada berita mengenai bus transjakarta, detik itu juga kepala dinasnya langsung saya copot. Kemudian dokumen-dokumen yang ada langsung kita berikan ke KPK," ucap Jokowi saat bersilaturahim ke Pondok Pesantren Bustanul Ulum, Kelurahan Sumelap, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (12/6/2014) lalu.

Dikatakan Jokowi, dirinya sebagai Gubernur DKI saat itu hanya memberikan persetujuan pada sebuah kebijakan. Sedangkan untuk penggunaan dan alokasi anggaran, sepenuhnya dilakukan oleh pejabat pelaksana. Dalam hal ini Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta yang saat itu dijabat Udar Pristono.

"Kalau saya perintahkan untuk membeli sabun yang wangi, tapi yang datang sabun colek yang tidak wangi. Nah, yang tidak benar yang mana? Yang nyuruh atau yang beli itu? Begitu kira-kira gambaran kasarnya," tutur Jokowi.

Seperti diketahui, kasus dugaan korupsi saat ini tengah ditangani oleh Kejaksaan Agung. Kejaging telah menetapkan mantan Kepala Dinas Perhubungan DKI Udar Pristono sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek pengadaan TransJakarta dan BKTB pada Dinas Perhubungan DKI Jakarta tahun 2013.

Dalam proyek senilai Rp 1,5 triliun tersebut, Kejaksaan juga menetapkan pihak lain sebagai tersangka, yakni Direktur Pusat Teknologi dan Sistem Transportasi di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Prawoto.[bay]

sumber http://nasional.inilah.com/read/detail/2113654/terungkap-bohong-jokowi-akhirnya-bungkam#.U7GG__l_vA8

Read More »
08.52 | 0 komentar

22 Juni 2014

BPK Temukan Potensi Kerugian DKI Rp 1,54 Triliun Era Gubernur Jokowi


BPK Temukan Potensi Kerugian DKI Rp 1,54 Triliun

Di hari jadinya ke-487, Jakarta mendapat kado pahit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Temuan BPK atas APBD DKI Jakarta 2013 menunjukkan ada 86 proyek yang ganjil sehingga berpotensi merugikan daerah dengan nilai total Rp 1,54 triliun.


Anggota V BPK Agung Firman Sampurna mengatakan temuan itu terdiri atas temuan berindikasi kerugian daerah Rp 85,36 miliar, potensi kerugian daerah Rp 1,33 triliun, kekurangan penerimaan daerah Rp 95,01 miliar, dan 3E (tidak efektif, efisien, dan ekonomis) alias pemborosan Rp 23,13 miliar.


"Arah kebijakan pemeriksaannya berfokus ke dana belanja bantuan sosial, belanja jasa, dan modal," kata Agung dalam konferensi pers di gedung DPRD DKI Jakarta, Jumat, 20 Juni 2014. (baca: Temuan BPK, Ahok: Ada Pencairan ke Rekening Pejabat).


Temuan-temuan yang mencolok pada era Gubernur Joko Widodo dan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama itu terdapat di Dinas Pendidikan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perumahan, dan Dinas Perhubungan. (baca: Temuan BPK, Ahok Ingin Inspektorat Dicopot)


Temuan di Dinas Pendidikan meliputi penyaluran Kartu Jakarta Pintar (KJP) ganda kepada 9.006 penerima senilai Rp 13,34 miliar. Selain itu, hasil audit dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) di sampel sebelas sekolah negeri menunjukkan indikasi kerugian Rp 8,29 miliar. Padahal, total anggaran BOP untuk sekolah negeri mencapai Rp 1,57 triliun. 


BOP untuk sekolah swasta juga terindikasi merugikan daerah Rp 2,19 miliar karena ada manipulasi Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dan ada sekolah yang mendapat BOP walaupun tidak meminta bantuan dana.


Program pengadaan bus Transjakarta dan bus sedang di Dinas Perhubungan dinilai tidak sepenuhnya sesuai ketentuan dan diragukan kewajaran harganya senilai Rp 118,40 miliar dan Rp 43,87 miliar.


Selain itu, ada pula keganjilan di Dinas Pekerjaan Umum karena adanya pencairan uang persediaan pada akhir 2013 sebesar Rp 110,04 miliar. Dari jumlah itu, sebanyak Rp 104,62 miliar ditransfer ke rekening kepala seksi kecamatan, suku dinas, dan kepala bidang pemeliharaan jalan. 


"Dari hasil uji lapangan, ditemukan belanja yang tidak didukung bukti pertanggungjawaban Rp 2,24 miliar," kata Firman. Ada pula indikasi kerugian Rp 4,49 miliar akibat proyek pembangunan jalan kampung yang volumenya kurang dan tidak sesuai spesifikasi teknis.


Program Kampung Deret juga dinilai tak optimal karena tidak mencapai target. Dari anggaran Rp 214 miliar, hanya terealisasi Rp 199 miliar hingga 30 Mei 2014 atau 93,12 persen dari target. Selain itu, banyak juga rumah deret yang berdiri di atas tanah negara, di lokasi drainase, dan garis sepadan sungai. (baca: Jokowi Janji Kampung Deret Bertambah Tahun Depan)


Ketua DPRD DKI Jakarta Ferrial Sofian mengaku tidak menyangka rapor keuangan DKI Jakarta bakal merosot pada tahun ini. "Saya juga kaget," ujar Ferrial seusai rapat paripurna luar biasa dengan agenda mendengarkan hasil pemeriksaan oleh BPK. "Ini kado pahit untuk ulang tahun Jakarta," ujar dia.


ANGGRITA DESYANI 
sumber http://www.tempo.co/read/news/2014/06/20/231586774/BPK-Kerugian-Jakarta-Era-Jokowi-Rp-154-Triliun

Read More »
08.01 | 0 komentar

19 Juni 2014

Gaya Blusukan Jokowi Tak Laku di Pilpres


Gaya Blusukan Jokowi Tak Laku di Pilpres
Joko Widodo (Foto: Dok. Okezone)
JAKARTA - Calon presiden nomor urut dua, Joko Widodo (Jokowi) memang identik dengan gaya blusukannya. Pada awal kemunculannya, gaya inilah yang menjadi salah satu daya tarik mantan Wali Kota Solo itu yang membuat masyarakat Indonesia khususnya Jakarta kepincut.



Hanya saja, Psikolog Politik Universitas Indonesia (UI) Dewi Haroen menilai gaya tersebut tak tepat lagi untuk "dijual" ke publik dalam pilpres. Hal itu dikarenakan begitu kompleksitasnya permasalahan yang ada di Indonesia, berbeda jauh dengan ketika ia memimpin Solo dan DKI Jakarta.



"Di Indonesia tidak bisa (Presiden dengan gaya blusukan). Enggak repot itu? Enggak istirahat, kan kalau presiden udah ada protokpler yang lebih ketat termasuk pengamanan, bisa mati kaya gitu (kalau blusukan terus). Makanya saya bilang jadi gubernur saja, Ahok yang kerja kalau masih suka blusukan," ucapnya saat berbincang dengan Okezone melalui sambungan telefon, Rabu (18/6/2014).



Penulis buku berjudul Personal Branding itu bahkan menyebutkan gaya blusukan itu juga akan membuat seorang presiden melupakan urusan lainnya yang lebih krusial.



"Dia (Jokowi) sibuk blusukan, foto di pasar, petugas keamanan sibuk mengamankan dia. Kapan bertemu sama perwakilan WTO (World Trade Organization) segala macam?" tukasnya.

Read More »
06.32 | 0 komentar

OBOR RAKYAT FITNAH JOKOWI: Inilah Komentar Front Pembela Obor Rakyat

Tabloid Obor Rakyat yang banyak menyebarkan kampanye hitam/Antara
Antara
Tabloid Obor Rakyat yang banyak menyebarkan kampanye hitam


Kabar24.com, JAKARTA— Inisiator Front Pembela Obor Rakyat (FPOR) Alfian Tanjung menuturkan pembuatan Tabloid "Obor Rakyat" untuk mengoreksi calon pemimpin.


"Ini bukan cuma perlu tapi harus (pembuatan Obor Rakyat) karena dalam memilih pemimpin, rakyat tidak boleh ibaratnya membeli kucing dalam karung," kata Alfian yang berasal dari aktivis Taruna Muslim melalui keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (18/6/2014).



Alfian mengatakan fakta menunjukkan capres Jokowi tidak amanah mengemban tugas sebagai Gubernur DKI Jakarta selama lima tahun.



Aktivis Korps Muballigh Jakarta Edy Mulyadi menyatakan FPOR dibentuk untuk memberikan pendampingan dan pembelaan terhadap Obor Rakyat yang sudah diperlakukan secara tidak adil.



Edy meminta pendukung Jokowi membuktikan tuduhan Tabloid Obor Rakyat yang melakukan kampanye "hitam".



Dia menjelaskan masyarakat harus mengetahui perbedaan kampanye hitam dengan kampanye negatif.



Dia mendefinisikan kampanye hitam merupakan informasi keburukan yang disebarluaskan berupa fitnah, sedangkan kampanye negatif sebagai informasi tentang keburukan yang disajikan berdasarkan fakta.



Edy mempertanyakan peraturan tentang kebebasan pers, namun ketika Obor Rakyat menyajikan fakta keburukan dianggap sebagai fitnah.



Pemimpin Redaksi "Voice of Islam" Mashadi menambahkan keberadaan Tabloid Obor Rakyat diperlukan ketika media massa lain tidak menjalankan fungsi secara tidak berimbang.



Sebelumnya, tim advokasi pasangan Jokowi-JK melaporkan Setriyadi dan Darmawan terkait dugaan melanggar Pasal 310 KUHP tentang fitnah dan Pasal 311 KUHP tentang pencemaran nama ke Mabes Polri pada beberapa waktu lalu.



Tabloid Obor Rakyat dituduh menginformasikan persoalan suku agama dan ras yang ditujukan kepada pasangan Jokowi-JK. (Antara)

sumber http://www.kabar24.com/nasional/read/20140619/98/221657/obor-rakyat-fitnah-jokowi-inilah-komentar-front-pembela-obor-rakyat

Read More »
05.42 | 0 komentar

17 Juni 2014

Politisi Senior PDIP Sebut Kartu Andalan Jokowi Bikin Bangkrut Negara

By  on 4:04 AM




Capres Joko Widodo atau Jokowi yang menawarkan program Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) membuat APBN jebol dan menyebabkan kebangkrutan negara.

Demikian dikatakan politisi senior PDIP, Kwik Kian Gie dalam acara di televisi swasta, Senin (16/6).

Menurut Kwik, Kartu Indonesia Sehat itu tidak berlaku terlebih lagi sudah ada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di mana rakyat bisa teratasi masalah kesehatan dengan menggunakan sistem asuransi.

"Di negara-negara maju, negara menjamin kesehatan warganya dengan sistem asuransi, bukan seperti Kartu Indonesia Sehat," papar Kwik.
sumber http://muslimina.blogspot.com/2014/06/politisi-senior-pdip-sebut-kartu.html

Read More »
10.48 | 0 komentar

Terbongkar, Ada Rekaman Elit PDIP Minta Kejagung Tak Bongkar Korupsi Jokowi

By  on 4:00 AM




Ketua Progres 98, Faizal Assegaf mempunyai bukti rekaman adanya pembicaraan salah Ketua DPP PDIP yang meminta Kejagung tidak membongkar korupsi capres Jokowi.

"Besok, Rabu 18 Juni, pukul 13.00 WIB, saya dan kawan-kawan Progres 98 akan mendatangi Gedung Kejaksaan Agung untuk menyampaikan surat klarifikasi terkait bocoran transkrip rekaman pembicaraan antara Jaksa Agung dengan org nomor satu PDIP," kata Faizal dalam broadcast message BlackBerry Massenger dan juga dipublis di akun facebook pribadinya, Selasa (17/6).

Kata Faizal, kedatangan ke Kejagung minta klarifikasi atas rekaman itu. "Meminta klarifikasi Kejagung rekaman yang isinya agar tidak menyeret Jokowi sebagai tersangka dalam kasus korupsi TransJakarta senilai 1,5 Triliun," ungkap Faizal.

Faizal mengaku kalau rekaman itu dia peroleh dari pihak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Tidak disinggung siapa elit PDIP itu, walau dikatakannya adalah orang nomor satu di partai. Dia juga tidak menjelaskan, siapa orang di KPK yang membocorkan ini.

Dalam kasus TransJakarta berkarat ini, pihak Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta telah menetapkan mantan Kepala Dinas Perhubungan DKI Udar Pristono, sebagai tersangka.
sumber http://muslimina.blogspot.com/2014/06/terbongkar-ada-rekaman-elit-pdip-minta.html

Read More »
10.33 | 0 komentar

Jokowi Ternyata tak Sederhana, Sepatunya Saja Rp990 Ribu

By  on 5:48 AM


Presiden Pilihan Rakyat JOKOWI, jujur, merakyat, sederhana. Sepatu Rp160.000, celana bahan Rp110.000, tidak pakai perhiasan, dan kemeja putih Rp100.000. Itulah isi baliho tentang Jokowi yang dipasang di pinggir-pinggir jalan jelang penetapan Jokowi menjadi Capres beberapa waktu lalu. Relawan yang memasang baliho ini mengatasnamakan dirinya Posko Perjuangan Rakyat (Pospera).

Kampanye "kesederhanaan" Jokowi ini nampaknya mampu menyihir banyak orang untuk berkesimpulan, Gubernur DKI Jakarta itu benar-benar sebagai sosok yang sederhana.

Tapi, benarkah anggapan itu? Ternyata tidak.


epatu Jokowi bermerk Everbest dibawa salah seorang ajudannya, usai mengikuti salat Jumat di Masjid Jakarta Islamic Center (JIC), Koja, Jakarta Utara, Jumat (13/12/2013) lalu. (foto: shodiq/si)

Seperti dilaporkan Tribun Timur, sepatu Jokowi yang dalam baliho-baliho hanya dihargai Rp160 ribu itu, ternyata bermerk Everbest. Di pasaran saat ini, sepatu yang dikenakan bekas Wali Kota Solo itu seharga Rp990 ribu, bukan Rp160 ribu.

Tribun Timur mengungkap hal ini ketika Jokowi mampir sesaat di Makassar setelah melakukan kampanye di Papua, Jumat (6/6/2014) lalu.

Calon presiden nomor urut 2 itu tiba di bandara menjelang waktu Salat Jumat. Dia hanya membawa tas coklat. Dia masih sempat bertemu dengan masyarakat yang juga menunggu pesawat di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar di Mandai, Maros.

Setelah mendengar Azan Jumat, Jokowi bergegas menuju musala. Setelah melepas sepatu, dia bergegas ke tempat salat. Sepatunya ditaruh di belakang musala. Seorang pengawal menjaga sepatu itu. "Bisa dilihat sepatunya, Pak," kata Tribun- Timur.com kepada pengawal itu.

Sang pengawal lalu mengangkat sepatu itu dan memperlihatkannya. Ternyata mereknya Everbest dan bermotif kotak-kotak. Menurut Tribun Timur, sepatu abu-abu ini juga lah yang dipakai saat mengunjungi Redaksi Tribun Timur, 10 Mei lalu.

Sebelumnya, di Banyuwangi, Jawa Timur, sepatu Jokowi yang terkesan lusuh ini pula yang mengundang penasaran warga. Saat itu Jokowi berkunjung ke Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, yang lokasinya sekitar dua jam dari Kota Banyuwangi.

Saat Jokowi mampir untuk salat Jumat di masjid dekat Pasar Benculuk, Jumat (4/4/2014), warga pun antusias menunggu. Mereka ingin bersalaman dan melihat langsung sosok yang dipopulerkan media itu. Jokowi mampir untuk salat Jumat sebelum menuju Jember untuk menghadiri kampanye PDIP.

Pemandangan menarik sudah ada sejak Jokowi yang mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana kain hitam yang ditekuk sampai lutut melepas sepatu coklat miliknya dan kemudian mengambil air wudu.

Sejumlah jemaah sudah berebut untuk bersalaman. Selain itu, ada pula jemaah yang memilih memperhatikan sepatu kulit coklat tua bersol karet milik Jokowi. "Mereke Everbest, tapi reget, ga kinclong koyok duweke pejabat (Mereknya Everbest, tetapi kotor, tidak kinclong seperti sepatu pejabat)," ucap seorang jemaah.

Beberapa orang yang kebetulan membawa ponsel berkamera langsung memotret sepatu Jokowi, termasuk memotret ajudan yang menjaga sepatu tersebut.

"Katanya Jokowi seringnya pakai sepatu ini saja. Saya baca di internet, waktu acara lari maraton Jakarta ya pakai sepatu itu, waktu sepedaan ya pakainya sepatu itu," ucap seorang jemaah.(tribun/suaraislam)
sumber http://muslimina.blogspot.com/2014/06/jokowi-ternyata-tak-sederhana-sepatunya.html

Read More »
10.30 | 0 komentar

15 Juni 2014

Luhut Pandjaitan, Intel Partikelir Kreator Jokowi

By  on 4:31 AM




Oleh : Berric Dondarion
Menurut Profesor Salim Said, ahli militer terkemuka dalam buku otobiografinya berjudul Dari Gestapu Ke Reformasi, Serangkaian Kesaksian, Leonardus Benny Moerdani (LB Moerdani) yang dianggap sebagai Raja Intelijen Indonesia mempunyai seorang anak kesayangan atau anak emas yaitu Luhut Binsar Pandjaitan (LB Panjaitan). Pernyataan Salim Said yang juga mengutip Adam Schwarz adalah sebagai berikut:

“Berbeda dengan panglima-panglima sebelum dan sesudahnya, Benny [Moerdani] memang memelihara sejumlah orang yang disenanginya. “Mereka itu semacam golden boys Benny Moerdani,” kata Schwarz. Salah satu yang dikenal sebagai “anak emas” itu adalah Luhut Binsar Pandjaitan.”

(Salim Said, hal. 343)

Pendapat yang sama juga dinyatakan oleh Sintong Pandjaitan bahwa ketika terjadi Debennysasi atau menyingkirkan orang-orang yang dekat dengan LB Moerdani, maka posisi LB Pandjaitan yang digolongkan sebagai anak emas LB Moerdani turut terkena imbasnya (Hendro Subroto, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando, halaman 463).

Bila LB Pandjaitan alias Luhut Binsar Pandjaitan bisa menjadi anak emas seorang legenda seperti LB Moerdani tentu peraih Adhi Makayasa berkat menjadi lulusan terbaik dari Akademi Militer Nasional angkatan tahun 1970 tersebut mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki rekan sejawat lain. Apakah kelebihan LB Panjaitan itu?

LB Moerdani adalah pahlawan palangan Irian Barat, jadi apakah LB Pandjaitan juga seorang pemberani ketika bertempur? Kelihatannya tidak, karena Hendro Subroto, wartawan perang legendaris mencatat bahwa LB Pandjaitan pernah menerima hukuman saat memimpin Tim C Group 1 Para Komando Satuan Lintas Udara, Kopassus dalam Operasi Seroja dan diterjunkan untuk merebut pangkalan udara yang berlokasi di Dili, Luhut Binsar Pandjaitan gemetar ketakutan sampai hampir ngompol karena tidak berani terjun dan hal ini menyebabkan timnya batal diterjunkan (selengkapnya lihat buku Operasi Udara di Timor Timur karangan Hendro Subroto).

Luhut Binsar Pandjaitan juga kurang dari segi kemampuan militer terbukti walaupun sama-sama pernah berlatih dengan Prabowo Subianto di US Army’s Special Forces, Fort Bragg, Amerika Serikat tapi pelatih mereka, Jenderal Wayne Downing justru menyebut nama Prabowo Subianto sebagai murid terbaik di antara sekian banyak prajurit asing yang pernah dia latih, padahal LB Pandjaitan lulus empat tahun lebih dulu daripada Prabowo Subianto. Berikut ini pernyataan Jenderal Wayne Downing:

“Of all the foreign soldiers I ever trained, two stood out. One was Abdullah II bin Al-Hussein, the reigning King of Jordan. The other was Prabowo Subianto.”

Fakta bahwa kemampuan tempur seorang LB Pandjaitan sangat rendah adalah dia selalu disekolahkan sepanjang karirnya dan dilewatkan setiap ada kebutuhan untuk melaksanakan operasi dengan kesulitan tinggi, pembebasan sandera di pesawat Garuda dalam Operasi Wolya misalnya, Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf LB lebih memilih Sintong Pandjaitan dan Soebagyo HS sebagai pelaksana operasi. Demikian pula bila melihat karirnya selama dinas, Luhut Binsar Pandjaitan tidak pernah diangkat sebagai panglima kodam atau bahkan kasdam manapun, pengalaman teritorialnya hanya sebatas sebagai Komandan Korem 081/Dhirotsaha Jaya, Madiun Jawa Timur tahun 1995 sebab hanya perwira terbaik yang akan menjadi pangdam sebagai bekal bila diangkat menjadi Panglima ABRI atau KSAD. Selain itu, selama karirnya, LB Pandjaitan yang besar di Kopassus juga tidak pernah menjadi Komandan Jenderal Kopassus.

Tampaknya kelebihan LB Pandjaitan yang dilihat oleh LB Moerdani bukan pada keberanian atau kemampuan militernya, tetapi lebih kepada seberapa jauh LB Pandjaitan bisa bertindak kejam bila keadaan membutuhkan kekejaman, terbukti Luhut Binsar Pandjaitan pernah memberi perintah menembaki sipil tidak bersenjata dengan peluru tajam. Kejadian ini diceritakan sendiri oleh LB Pandjaitan kepada tim dari Tempo sebagai berikut:

“Letusan peluru itu tidak digubris para pendemo. Mereka terus melempari tentara dengan batu. Merasa terdesak Luhut [Pandjaitan] memerintahkan anak buahnya menembak kaki para pendemo. Situasi makin kacau karena mereka kocar-kacir. Tentara yang mengejar tidak lagi mengarahkan moncong ke aspal, tapi sudah mengincar sasaran. Luhut menduga banyak yang tewas saat kejar-kejaran itu.”

(Massa Misterius Malari, Tempo, hal. 71)

Tentu saja selain kehebatannya sebagai seorang raja intelijen, LB Moerdani juga terkenal dengan kemampuannya untuk berbuat kejam dengan tingkat jauh melebihi Ali Moertopo dan Zulfikli Lubis sekalipun karena 90% kekerasan pada era Orde Baru mulai dari Operasi Komodo-Petrus-Tanjung Priuk-Kudatuli-Kerusuhan Mei 1998, adalah buah karya Leonardus Benny Moerdani. Sisa 10%nya adalah pekerjaan Ali Moertopo, guru LB Moerdani.

David Jenkins, wartawan senior Australia dalam orbituari kepada Benny Moerdani, “Charismatic, Sinister Soeharto Man” menulis sebagai berikut:

“Hardened in battle and no stranger to violence, Moerdani believed that the ends justify the means…He once shocked members of an Indonesian parliamentary committee by saying, in effect, that if he had to sacrifice the lives of 2 million Indonesians to save the lives of 200 million Indonesians he would do so.”

http://www.smh.com.au/articles/2004/09/09/1094530768057.html

Status anak emas ditambah tidak kompeten bila ada di garis depan membuat LB Moerdani bermaksud mewariskan ilmu intelijennya kepada Luhut Binsar Pandjaitan, hal ini terbukti selepas membuat aib selama Operasi Seroja, pekerjaan LB Pandjaitan lebih banyak berkutat di dunia intelijen, dan dimulai dengan dia ditarik ke Pusat Intelijen Strategis (Pusintelstrat) menjadi perwira operasi, selanjutnya kembali menjadi perwira operasi pada Satuan Tugas Intel Badan Intelijen Strategis (BAIS) ABRI dan kemudian atas izin LB Moerdani dan muridnya Try Soetrisno, mendirikan Proyek Intelijen Teknik pada Den 81/Anti Teror Kopassus atau proyek Charlie (1985).

Sayangnya sebagaimana dicatat oleh Sintong Pandjaitan dalam bukunya Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando dan ditulis oleh Hendro Subroto, Proyek Charlie malah digunakan LB Pandjaitan untuk melakukan kudeta kepada Presiden Soeharto, tapi berhasil dicegah sebelum terlaksana. Komentar LB Pandjaitan saat itu: “Matilah aku…Waduh,…! Jadi rempeyek lah aku,” (halaman 461). Tentu LB Pandjaitan dan temannya sesama klik LB Moerdani yaitu Sintong Pandjaitan berdalih bahwa tuduhan usaha kudeta di balik Proyek Charlie adalah fitnah, namun demikian mengingat proyek ini sudah disetujui oleh Panglima ABRI Jenderal Try Soetrisno maka bila memang berdasarkan laporan tidak benar, tentu tidak akan merusak karir LB Pandjaitan.

Karir militer LB Pandjaitan setelah percobaan kudeta yang gagal tersebut lebih banyak dihabiskan sebagai staf operasi atau memimpin sekolah militer, seperti menjadi Komandan Sekolah Pusdik Para Lintas Udara (1987); Komandan Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus) (1993) sampai terakhir Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklat TNI AD) (1997-1999). Setelah itu pada masa pemerintahan Presiden Gus Dur dia sempat menjabat sebagai Dubes RI untuk Singapura dan Menperindag, masing-masing selama satu tahun. Setelah pensiun LB Pandjaitan menjadi pengusaha dan kelihatannya menyalahkan Prabowo Subianto atas nasib gurunya, LB Moerdani dan nasib karir militernya yang mentok.

Posisi sebagai pengusaha tampaknya hanya sekedar kedok bagi LB Pandjaitan, karena setelah pensiun dia lebih memilih mempraktekan ilmu intelijen yang pernah diperolehnya dari bekerja di BAIS dan ajaran LB Moerdani dengan menjadi intelijen partikelir. Setinggi apa ilmu intelijen LB Pandjaitan sulit diukur tapi perkiraan saya jauh di bawah AM Hendropriyono, mantan Kepala BIN kesayangan Megawati itu; sedangkan AM Hendripriyono tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan mantan Kepala Bakin Yoga Soegama. Kendati demikian di era damai dan defisit intelijen hebat seperti sekarang maka kemampuan intelijen dari LB Pandjaitan maupun AM Hendropriyono terlihat menonjol.

Untuk memahami ilmu intelijen yang dimiliki LB Pandjaitan kita harus tahu bahwa secara umum ilmu intelijen terbagi tiga yaitu penyelidikan (pengumpulan informasi); pengamanan; penggalangan (gerakan-gerakan rahasia seperti penggalangan massa, propaganda, anti-teror, spionase dan disinformasi) sampai tingkat tertinggi yaitu analis dan biasanya pendidikan analisis hanya untuk para pemimpin, karena sudah diajarkan membuat produk intelijen untuk beragam kegiatan dan tujuan.

Nah, dilihat dari latar belakangnya, posisi terakhir LB Panjaitan di bidang intelijen hanya menjadi perwira operasi pada Satuan Tugas Intel BAIS ABRI maka saya perkirakan ilmu intelijen yang diajarkan LB Moerdani paling tinggi hanya sampai tingkat penggalangan dan kebetulan keahlian LB Moerdani dan gurunya, Ali Moertopo adalah penggalangan. Masalahnya bila LB Moerdani sangat kuat dalam selidik, pengamanan dan manajemen intelijen, namun LB Pandjaitan sangat kurang dalam ketiga kemampuan tersebut karena latihan dan bakat yang kurang, makanya sekarang strateginya menciptakan capres boneka bernama Joko Widodo jebol, ketahuan kedok dan permainannya. Itu lantaran fokus LB Pandjaitan hanya tertuju pada penggalangan untuk menciptakan capres boneka untuk menandingi orang yang dianggap mengalahkan gurunya, LB Moerdani dan menyebabkan karir militernya mentok sehingga melupakan pengamanan dan manajemen intelijennya sendiri.

Berkat ketidakjelian Luhut Binsar Pandjaitan, sekarang kita mengetahui langkah demi langkah dari perkenalannya dengan Walikota Solo Joko Widodo/Jokowi atas perintah Dubes Amerika Serikat sampai membina Jokowi hingga siap menjadi capres pesaing Prabowo pada pilpres 2009 yang dilatarbelakangi oleh dendam kesumat karena Prabowo Subianto dianggap bertanggung jawab atas tersingkirnya LB Moerdani dan mentoknya karir militer LB Pandjaitan. Kedekatan LB Pandjaitan dengan duta-duta besar Amerika Serikat bahkan membuatnya bisa memarahi Dubes Robert Gelbard dan memberi rekomendasi orang yang harus dianggap sebagai teman oleh sang duta besar selama di Indonesia (Kiki Syahnakri, Timor Timur The Untold Story, hal. 319).

Adapun langkah LB Pandjaitan melakukan kegiatan intelijen untuk membina Jokowi terbukti dari beberapa hal sebagai berikut:

- Jokowi yang sukses “mengamankan” Abu Bakar Ba’asyir dan Ponpres Ngruki yang terkenal radikal atas permintaan Amerika Serikat yang dibuat tahun 2005 menyusul Bom Bali mendapat kunjungan pada tahun 2008 dari AM Hendropriyono dan LB Pandjaitan, dua sejoli murid LB Moerdani. Kedua murid terakhir LB Moerdani tersebut mendapat tugas dari CSIS, lembaga bentukan Pater Beek, agen CIA di Indonesia untuk mempersiapkan pemimpin baru untuk mencegah Prabowo Subianto yang naik daun supaya tidak menjadi Presiden Indonesia.

- Pertemuan antara LB Pandjaitan dan Jokowi tidak akan ketahuan bila saja tabir intelijen yang dibuat untuk menutupi pembinaan terhadap Jokowi bukan berupa PT Rakabu Sejahtera, usaha patungan antara Jokowi dengan LB Pandjaitan yang mana dalam Akta Pendirian tertulis modal dasar perusahaan sebesar Rp. 15,5miliar dari LB Pandjaitan dan Gibran Rakabuming Raka yang masih berusia 20 tahun “menyetor” Rp. 19,2miliar (luar biasa tuyul Jokowi karena anaknya yang umur 20 tahun bisa memiliki uang Rp. 19,2miliar). Selain itu yang lebih mencurigakan lagi adalah untuk apa LB Pandjaitan mendirikan usaha mebel dengan seorang pengusaha mebel antah berantah bernama Jokowi yang menghasilkan produk tidak berkualitas padahal usaha sehari-hari LB Pandjaitan adalah bisnis yang lebih prestisius daripada bisnis mebel, Inalum misalnya. Ini adalah kesalahan pertama.

- Kesalahan kedua, untuk mempersiapkan Jokowi ke panggung nasional, LB Pandjaitan membuat operasi intelijen demi menciptakan citra palsu Jokowi sebagai pemimpin muda terbaik negeri ini dengan cara rekayasa. Masalahnya operasi intelijen tersebut menjadi mencurigakan ketika mereka malah menggunakan majalah Tempo milik Goenawan Mohamad, anak binaan Ivan Kats agen CIA dan Fikri Jufri yang mengidolakan sampai tahap terobsesi terhadap LB Moerdani (lihat Janet E. Steel, Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia, Equinox Publishing, hal. 238).

- Kesalahan ketiga adalah sebelum sosok Jokowi dipublikasikan, kelompok perekayasa Jokowi malah mempublikasikan diri menantang SBY yang menghapus dwifungsi ABRI dan terlalu liberal, terbukti pada tahun 2011 sering diadakan pertemuan antara para purnawirawan jenderal yang hari ini mendukung Jokowi dan semuanya bagian dari klik Leonardus Benny Moerdani di kantor Luhut Binsar Pandjaitan di Wisma Bakrie 2, antara lain dihadiri: Kiki Syahnakri, Fachrul Razi, Jonny Lumintang, Agus Widjojo, dan AM Hendropriyono. Walaupun agenda pertemuan dirahasiakan tapi tampaknya ada kaitan dengan suksesi pasca pemerintahan Presiden SBY tahun 2014.

http://www.rmol.co/read/2011/03/31/22733/Letjen-(Purn)–Kiki-Syah­nakri:-Ini-Musim-Adu-Domba-Perlu-Lebih-Waspada-

- Setelah Jokowi menjadi capres, tabloid The Politics milik mantan pendukung Jokowi mengungkap bahwa LB Pandjaitan mendukung pendanaan dan membayar lembaga survei seperti LIPI, CSIS, KOMPAS, SMRC milik Saiful Mujani untuk mendukung Jokowi. Selain itu saat itu LB Pandjaitan memiliki bisnis bersama Jokowi dengan kantor di Gedung Mazda, Menteng. Walaupun membantah namun hari ini terbukti semua lembaga survey di atas mendukung Jokowi, Saiful Mujani bahkan bertindak jauh dengan membagi uang di kampanye untuk Jokowi; dan ada perusahaan LB Pandjaitan mengikuti tender pengadaan ERP Jakarta. Ini adalah kesalahan keempat karena sebagai intelijen tidak memiliki organisasi organik sehingga harus mempercayai organisasi jaring, padahal anggota jaring biasanya gampang buka kartu, membuka belang intelijen yang harusnya dirahasiakan.

- Kesalahan kelima adalah kebakaran gedung milik perusahaan patungan LB Pandjaitan-Jokowi pada tanggal 26 Juli 2012 yang sampai sekarang tidak ketahuan penyebabnya; padahal kita tahu kegiatan perusahaan ini sendiri sangat aneh dan mencurigakan karena anak Jokowi bisa menyetor uang sebesar Rp. 19,5miliar untuk modal usaha patungan dengan LB Pandjaitan.

Kelemahan terbesar LB Pandjaitan tidak lain dari kedudukannya sebagai intelijen partikelir yang tidak memiliki organisasi intelijen organik sehingga dia harus bergabung dengan CSIS, organisasi intelijen buatan Pater Beek, agen CIA. Masalahnya CSIS yang sudah mengadu domba Ali Moertopo dengan Yoga Soegama, Jenderal Soemitro, Alamsyah, M. Jusuf, Sutopo Juwono, Sudharmono; LB Moerdani dengan BJ Habibie, Sudharmono, Prabowo, Ali Moertopo dan Soeharto sendiri, tidak akan bersedia melepas operasi pencapresan Jokowi begitu saja dan oleh sebab itulah sesungguhnya LB Pandjaitan tidak akan pernah bisa mengendalikan mereka, sebaliknya, CSIS yang akan mengendalikan LB Pandjaitan dan Jokowi, karena mereka memiliki prinsip “Kuda boleh berganti tapi penunggangnya sama,” atau dengan kata lain presiden negeri ini boleh berubah tapi CSIS yang akan mengendalikannya.

Demikian kisah kreator sosok Joko Widodo alias Jokowi capres petugas partai yang dendam karena gurunya tersingkir dari arena politik karena mencoba melakukan usaha mendeislamisasi Indonesia; dan karir militernya sendiri mentok, tapi bukannya introspeksi diri, LB Pandjaitan malah menyalahkan orang lain dan berkonspirasi menjatuhkan orang lain tersebut dan orang lain itu bernama Prabowo Subianto.
sumber http://muslimina.blogspot.com/2014/06/luhut-pandjaitan-intel-partikelir.html

Read More »
10.09 | 0 komentar

Obor Rakyat: Politik Dizolimi ala Jokowi-JK

By  on 5:39 AM



Oleh : Berric Dondarrion

Berkat kesaksian Gun Gun Heriyanto, dosen ilmu komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah yang mengaku pernah diminta sumbangan artikel untuk Tabloid Obor Rakyat, akhirnya pengelola dan kolumnis Obor rakyat yang menghebohkan itu diketahui bernama Darmawan Sepriyossa dan Setiyardi Boediono, Komisaris PTPN XIII, keduanya mantan jurnalis Majalah Tempo.

Skak mat bagi kubu Prabowo-Hatta? Tidak juga karena sudah diketahui bahwa Jokowi-JK memiliki hobi melakukan Politik Dizolimi alias Play Victim maka dapat dipastikan Obor Rakyat juga adalah bagian taktik “menyakiti diri sendiri dan kemudian menyalahkan orang lain sebagai pelakunya” yang secara konsisten dimainkan oleh Jokowi selama dua tahun terakhir.

Awalnya terbersit Obor Rakyat memang diterbitkan oleh kubu Prabowo-Hatta, dan bila demikian maka mereka bodoh. Tapi bila dipikir sekali lagi, proses terbukanya identitas di balik pengelola Obor Rakyat sangat mencurigakan bukan? Bila Obor Rakyat memang dimaksudkan sebagai kampanye hitam, lantas untuk apa Darmawan Sepriyossa menghubungi Gun Gun Heriyanto untuk meminta artikel dan menayangkan artikel tersebut di tabloid yang notabene menjadi heboh karena dorongan kubu Jokowi-JK sendiri. Tindakan Darmawan Sepriyossa tersebut jelas menimbulkan remah-remah roti besar yang mengarah ke dirinya dan selanjutnya dia menunjuk hidung Setiyardi sebagai pengelolanya. Eureka! Main Politik Dizolimi lagi si Jokowi…dasar..

Kasus ini 100% identik kasus babinsa bukan? Ketika itu SBY dengan emosi mengungkap bahwa ada oknum TNI/Polri aktif yang seharusnya netral tapi malah mendukung salah satu pasangan capres dengan alasan mencari sekoci penyelamat. Setelah itu kubu Jokowi-JK melempar isu babinsa memihak Prabowo-Hatta tapi sekarang malah terbukti bahwa TNI, Polri dan BIN mendukung mereka dengan aktif menjegal lawan; dan lebih parahnya Trimedya Pandjaitan, timses Jokowi-JK malah ketangkap basah bertemu Komjend Budi Gunawan dan Komisaris KPU Hadar Hafis Gumay dengan tujuan antara lain memberikan soal contekan kepada Jokowi-JK untuk debat capres.

Benar kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga dan bau bangkai pasti tercium. Mari kita lihat beberapa bukti bahwa Obor Rakyat adalah pekerjaan kubu Jokowi-JK:

Bukti Pertama: Kita harus ingat bahwa Luhut Binsar Pandjaitan/LB Pandjaitan sang anak emas dan anak murid Benny Moerdani yang berarti cucu murid Ali Moertopo adalah orang yang membina dan mempersiapkan Jokowi sebagai capres boneka untuk menandingi Prabowo. Dengan demikian strategi yang dijalankan oleh LB Pandjaitan untuk memenangkan Jokowi pasti mengadopsi ilmu penggalangan Ali Moertopo dan LB Moerdani.

Bukti Kedua: Formula yang digunakan oleh kubu Jokowi-JK melalui tangan intel partikelirnya, LB Pandjaitan adalah formula yang sama ketika Ali Moertopo merekayasa Kerusuhan Malari 15 Januari 1974/Malari sampai ketika Benny Moerdani merekayasa Peristiwa 27 Juli 1996/Kudatuli dan Kerusuhan 13-14 Mei 1998/Rusuh Mei:

a. Tabloid Obor Rakyat yang berisi berita-berita negatif tentang Jokowi yang mengambil isi tulisan Raden Nuh di Twitter via Triomacan2000 tanpa sedikitpun menulis tentang Prabowo atau Hatta sehingga mudah menggiring opini bahwa tabloid tersebut dibuat oleh kubu Prabowo-Hatta untuk mendiskriditkan Jokowi-JK.

Formula di atas adalah mirip proses awal dimulainya Malari yaitu melalui Dokumen Ramadi yang menyatakan masa kepemimpinan Soeharto sudah akan berakhir dan akan diganti oleh Jenderal Soemitro; sama dengan angket buatan Aberson Marie Silaloho menjelang Kudatuli yang menyatakan masa kepemimpinan Soeharto harus diteruskan oleh Megawati dan mirip dengan dokumen rencana revolusi oleh “kelompok pro demokrasi” yang ditemukan di Rumah Susun Johar di Tanah Tinggi, Tanah Abang setelah ada bom rakitan meledak prematur lima bulan sebelum Rusuhan Mei.

b. Sejak awal Tabloid Obor Rakyat sudah diarahkan kepada Prabowo-Hatta diarahkan sejak Darmawan Sepriyossa meminta Gun Gun Heriyanto menyumbang artikel yang masuk ke Tabloid Obor Rakyat dan setelah Gun Gun mengungkap fakta ini, Darmawan mengungkap pengelola tabloid adalah Setiardi Boediono yang di facebooknya berisi puja-puji kepada Prabowo.

Malari dari awal sudah diarahkan kepada target penjatuhan yaitu Jenderal Soemitro sebab dia dekat dengan Hariman Siregar pemimpin mahasiswa, rumor dia mencetuskan “Kepemimpinan Gaya Baru” dan Dokumen Ramadi. Demikian pula Kudatuli dari awal diarahkan kepada Soeharto seperti Dr. Soerjadi dikisahkan direkrut untuk menggeser Megawati, kongres di Medan dibayar oleh cukong Orde Baru (Sofjan Wanandi); dan Alex Widya Siregar sebagai pengumpul preman yang menyerang adalah PDI Pro Soerjadi dan pemimpin serangan adalah Sutiyoso dan SBY. Begitu juga dengan Rusuh Mei, sejak awal penembakan Trisakti; “penculikan aktivis” dan Rusuh Mei sudah ditiupkan ke arah Prabowo dan Soeharto, selain itu PRD meniupkan rumor bahwa dokumen di Tanah Tinggi adalah rekayasa intelijen.

c. Bau busuk Tabloid Obor Rakyat tercium karena mereka hanya mengulang isi tweet akun Triomacan2000/TM2000, dan kita tahu bahwa admin akun tersebut adalah Raden Nuh; Abdul Rasyid; dan Syahganda Nainggolan, ketiganya adalah mantan HMI dan sebelum kampanye pilpres tidak pernah “menyerang” tokoh alumni HMI, dan pengecualian dilakukan baru-baru ini dengan “membuka korupsi Jusuf Kalla.” Raden Nuh adalah kader Partai Hanura, partai pendukung Jokowi yang mengidolakan Wiranto; Abdul Rasyid memang staf khusus menko perekonomian di bawah Hatta Rajasa tapi sekarang dia menjadi stafsus Chairul Tandjung sebagai menko yang baru, dan uniknya Abdul Rasyid dan Syahganda adalah orang yang memprakarsai berdirinya Pamswakarsa atas permintaan Wiranto. Wiranto sendiri adalah binaan Benny Moerdani yang ditempatkan di kabinet terakhirnya Presiden Soeharto!! Sedangkan Darmawan Sepriyossa dan Setiardi Boediono adalah mantan jurnalis majalah Tempo tidak lain adalah pendukung utama Jokowi-JK dan didirikan Goenawan Mohamad, anak didik Ivan Kats sebagai agen CIA dan Fikri Jufri yang sangat mengidolakan Benny Moerdani dari CSIS!!

Malari terkuak karena ternyata Hariman Siregar, pemimpin demo mahasiswa adalah bentukan dari Ali Moertopo sendiri; demikian pula massa yang menunggangi demo adalah massa GUPPI yang dilatih oleh Ali Moertopo di CSIS dan Lim Bian Koen dari CSIS terekam sering datang ke kantor GUPPI bertemu Ramadi yang setelah Malari mati misterius di tahanan. Kudatuli terkuak karena berdasarkan kesaksian Rachmawati Soekarnoputri, adik Megawati terungkap ternyata Megawati dan Benny bersekongkol untuk menjatuhkan Soeharto, selain itu Dr. Soerjadi, dan Aberson Marie adalah anak didik Benny Moerdani. Sedangkan “penculikan aktivis”; penembakan Trisakti; Rusuh Mei terungkap karena kesaksian Salim Said bahwa Benny Moerdani mau menjatuhkan Soeharto melalui gerakan massa yang mengejar orang China dan Kristen; kesaksian Lim Bian Koen, pendiri CSIS di bukunya bahwa Wiranto adalah anak didik terakhir Benny Moerdani di kabinet Soeharto, dan Fachrul Razi maupun Soebagyo HS adalah anggota klik Wiranto yang setia pada Benny.

d. Uraian huruf a, b, dan c memang belum cukup membuktikan bahwa Tabloid Obor Rakyat terbit atas instruksi kubu Jokowi-JK tapi dapat dijadikan titik tolak untuk menyelidiki lebih dalam, misalnya siapa di belakang akun TM2000 yang tiba-tiba berstatus non-aktif setelah pengelola Tabloid Obor Rakyat terbongkar? Selain alumni Tempo, apakah Darmawan Sepriyossa, Gun Gun Heriyanto dan Setiardi Boediono memiliki hubungan dengan kubu Jokowi-JK? Siapa yang membiayai penerbitan Tabloid Obor Rakyat? Mengapa mereka membuat berita dengan mendasarkan kepada twit TM2000? Mengapa Jokowi mendiamkan twit dari TM2000 bahwa dia tidak bisa sholat dan menunggu sekian lama baru dia bersedia diliput sholat berjemaah, biar kesan dizolimi bisa meningkat?

Saya tidak akan heran bila nantinya ditemukan Darmawan Sepriyossa, Gun Gun Heriyanto dan Setiardi Boediono ditemukan memiliki hubungan dengan kubu Jokowi-JK sama seperti ketiga admin TM2000 memiliki hubungan dengan Wiranto dan Hanura; toh semua jenderal yang di sisi Jokowi-JK memang memiliki hubungan dengan Wiranto, apalagi nyatanya JK “memelihara” orang-orang yang dia tempatkan di partai lain supaya menggerakan partai sesuai kepentingan dia seperti Bupati Kabupaten Bogor Rachmat Yasin dari PPP atau Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin, mantan Golkar yang pindah ke Demokrat tapi setia kepada Jusuf Kalla.

Berdasarkan bukti-bukti di atas maka kita bisa memasukan isu Tabloid Obor Rakyat ke daftar Politik Dizolimi yang sudah dilakukan oleh Jokowi-JK.
sumber http://muslimina.blogspot.com/2014/06/obor-rakyat-politik-dizolimi-ala-jokowi.html

Read More »
09.44 | 0 komentar

Hendropriyono Tunggangi PDIP dan Jokowi

By  on 5:23 AM




Oleh : Saefuddin Sae

Orang pertama yang “menemukan” Jokowi adalah mantan Kepala BIN dan murid Benny Moedani bernama Hendropriono. Kader utama LB Moerdani ini, terduga otak pelaku pembunuhan Munir aktivis HAM dan pembantaian ratusan syuhada jamaaah Warsidi Talangsari Lampung 1989 dan pembentukan teroristainment ala Densus 88.

Hendro juga adalah terduga pencipta, perekayasa serangkaian kegiatan “terorisme” atau lebih tepatnya aksi live show #teroristainment di Indonesia sewaktu menjabat kepala BIN.

Hendro bermaksud menumpang agenda AS yang sedang melancarkan perang global terhadap terorisme paska pemboman WTC 11/09/01. Tujuannya, menarik perhatian AS agar masuk ke Indonesia, kemudian membantu agenda pribadi Hendropriono jadi Presiden RI. Hendro berharap AS berutang budi atas jasa-jasa Hendro yang “membantu” dalam memenangkan perang menumpas teroris di Indonesia.

Modusnya, dengan memberikan “legitimasi dan bukti” bahwa pengakuan Hambali (mujahid yang dijerat #terorostainment dan ditahan AS di Guantanamo) adalah benar. Hambali atas tekanan penyiksaan ala waterboard di penjara Guantanamo akhirnya mengaku pernah 1X kunjungi Ust Abubakar Baasyir di Ngruki. Meski Hambali bilang kunjungannya temui Baasyir ke Pesantren Ngruki hanya satu kali dan tidak bahas apapun, apalagi terorisme, AS tetap waspada.

Perhatian AS terhadap pesantren Al Mukmin Ngruki Solo Jawa Tengah, dimanfaatkan Hendro dengan merekayasa serangkaian gerakan terorisme alias teroristainment di Indonesia, dan buktinya bom meledak. Bom yang meledak dimana-mana ditunggani Hendro seperti Bom bali I (12/10/2), Bom BEJ, Bom Kedubes Australia, dan Bom Bali II itu lalu dimanfaatkan untuk kepentingan Hendro serta memberikan stigma RI negara teroris.

Solo dijadikan pusat medan perang terorisme di Indonesia, gara-gara Hendro. Orang yang dijadikan Ka BIN oleh Presiden Mega, khianati negara RI. Hendopriono adalah kader utama Moerdani. Yang terkenal sebagai ANTI ISLAM, meski Hendro bernama asli Abdul Mahmud Hendropriono, haji lagi!

Sebelum jadi master of terrorist Indonesia, Hendro bersama 1 batalion pasukannya ’sukses’ membantai mati 246 umat Islam jamaah Warsidi di Talangsari Lampung tahun 1989.

Mengapa Hendropriono Membentuk Densus 88

Dalam rangka menjadikan Solo dan Pesantren Al Mukmin Ngruki sebagai pusat medan perang terorisme (abal-abal) di Indonesia, Hendro butuh bantuan Walikota Jokowi yang kini menjadi boneka Hendro.

Meski akhirnya rekayasa Hendro pada “perang terorisme di RI” tercium oleh CIA, FBI dan LSM-LSM AS, Hendro jalan terus. Join dengan Australia

AS yang ‘dikadalin’ Hendro terkait isu terorisme tidak mau bantu Hendro, AS malah mendukung SBY jadi Presiden RI pada 2004 lalu dan berimbas pada marahnya Hendro! Hendro lalu bekerja sama dengan teman-teman dan yunior-yuniornya seperti Luhut Panjaitan dan Dai Bachtiar. Mereka dorong bentuk Densus 88, dengan bantuan Australia.

Sumber Daya di TNI sudah tidak bisa diharapkan lagi untuk “perangi terorisme (palsu)”, Hendro tunggangi Polri Cs untuk membentuk Densus 88. Australia bantu. Maka sejak itulah ABRI Merah mendompleng Polri yang terus dicaci maki karena tindakan teroristainment yang berlebih. Seiring dengan terbentuk Densus 88 maka umat Islam kini mengalihkan perhatiannya dari ABRI merah, tak tahunya masih di dalangi oleh Jenderal jagal yang sama, darah titisan Benny Moerdani Cs.

AKhirnya Australia mau membantu “perangi terorisme abal-abal” di Indonesia karena tekanan politik dalam negeri mereka yang begitu kuat, apalagi korban bom Bali I menewaskan 88 WN Aussie. Kekhawatiran rakyat Aussie baga bola salju dan menganggap terorisme Indonesia sebagai ancaman bagi keamanan nasional. Karenanya Aussie terpaksa rekrut Hendropriono

Selanjutnya bisa tebak, Hendroprioono jadi agen pemerintah Aussie via ASIS (lembaga intelijen Australia). Hendro dipasok uang, logistik, info, jaringan dan lainnya.
sumber http://muslimina.blogspot.com/

Read More »
09.30 | 0 komentar

Warga Cilacap Kecewa, Jokowi Datang Hanya Untuk Foto-foto di Sawah Buat Pencitraan!

By  on 3:23 AM



Warga dan tokoh Cilacap menyambut baik inisiatif Joko Widodo yang menyempatkan diri mengunjungi kampung halaman mereka di sela-sela calon presiden tersebut berkampanye di Jawa Tengah.

"Ya saya senang dengan kehadiran Jokowi di Cilacap, dan juga ke desa saya lalu ke museum Soesilo Soedarman," ujar salah seorang tokoh Cilacap, Tridianto, Jumat malam (13/6).

Di Cilacap, tepatnya di Desa Gentasari, Kecamatan Kroya, Jokowi langsung menuju area persawahan. Tak lama kemudian, dia bergerak ke Museum Soesilo Soedarman dengan berjalan kaki karena memang lokasinya tak jauh.

Namun Tridianto kecewa dengan agenda kunjungan Gubernur DKI Jakarta nonaktif tersebut.

"Tapi sangat saya sayangkan, ke desa saya (Jokowi) cuma ambil gambar di sawah buat pencitraan karena masa panen saja belum kok ke sawah. Jadi mau jadi apa negara ini kalau dipimpin capres yang hanya cuma pencitraan saja," kesal mantan Ketua Demokrat Cilacap ini.

Tridianto tak asal bicara. Dia mengungkap itu apa adanya karena menyaksikan secara langsung.

"Saya melihat langsung kaya gitu. Di depan saya juga dia pulang keluar dari museum lewat belakang naik mobil pergi menghindari masyarakat yang mau salaman. Masak ketemu rakyat takut sampai lari-lari lewat belakang," ungkapnya.

Loyalis Anas Urbaningrum yang juga Jubir Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) menyatakan demikian bukan karena dia pendukung lawan Jokowi, Prabowo Subianto.

"Saya bukan pendukung Prabowo dan juga (bukan) Jokowi. Saya bicara objektif yang terjadi seperti itu," demikian Tridianto, yang sebelumnya juga dikenal sebagai pengusaha jamu ini.

Sumber: rmol
http://muslimina.blogspot.com/2014/06/warga-cilacap-kecewa-jokowi-datang.html

Read More »
09.09 | 0 komentar