Kamu Pengunjung Ke

Arsip Blog

Get Connection

TRAVEL MURAH KE BANDUNG
Jalan-jalan ke Kota Wisata Bandung dengan layanan yang ramah dan berpengalaman, membuat Anda terasa nyaman dalam mengisi liburan
kiostravel-id.blogspot.com

Koleksi Pakaian Terbaik
Temukan Pakaian Idaman dan sesuai Kebutuhan anda DISINI
dhifastore.blogspot.com

Ads by Dhifa Outlet

Site Info

ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free My Ping in TotalPing.com

Followers

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

18 Mei 2014

Deret Tinta Untuk Negeri

Apakah aku bisa banggakan orangtuaku, banggakan negeriku, banggakan bangsaku, banggakan tanah airku, apapun keadaanku?
Aku ingin menjadi anak yang hidup normal seperti sebayaku. Menapaki setiap detik waktu belajarku di sekolah, bergaul dengan teman seusia, banggakan orangtua, berprestasi di usia muda, bahkan saatnya aku mati kapanpun itu aku juga ingin dikenang. Bukan karena kebodohanku, tapi karena prestasiku. Salahkah aku berkeinginan mewujudkan hal itu?
Tapi mengapa aku dilahirkan dengan keterbatasan? Bagaimana aku bisa mewujudkan keinginanku jika keadaanku seperti ini ya Allah?

Namaku Salsabila Adriyani Fatiha, atau yang kerap disapa Bella. Aku bukan lah anak dari seorang direktur bank ternama di kota, bukan pula seorang anak dari pengusaha garment kaya. Ayahku yang hanya seorang guru bantu di salah satu sekolah dasar dekat rumah, bukanlah suatu pekerjaan yang bisa membantu ekonomi keluarga. Sedangkan ibuku hanya seorang buruh cuci. Usiaku genap 14 tahun saat 2 bulan yang lalu. Kehidupanku sehari hari hanyalah membantu ibu menyelesaikan pekerjaan di rumah, juga menempuh pendidikan di salah satu sekolah menengah pertama luar biasa di kotaku.
SMPLB? Ayah menyekolahkanku di sana karena aku mempunyai keterbatasan, tahukah kamu apa keterbatasanku? Aku salah satu anak indonesia penderita disleksia, jarang memang di Indonesia ada anak yang menderita disleksia. Disleksia adalah kurangnya kemampuan dalam menyerap kalimat, berhitung dan menulis. Sampai saat ini, aku belum juga tau apa gerangan yang menyebabkanku menderita penyakit itu. Tetapi aku pernah mendengar, saat dokter berbincang dengan ayahku, disleksia yang kuderita bukan karena ayah yang terlambat menyekolahkanku, bukan pula karena kemalasanku belajar, tetapi memang karena otakku tak mampu berfikir berat secara cepat.
Di sekolah, aku tak mempunyai banyak teman. Mereka semua kukenali, tetapi tak ada yang mau mendekat kepadaku. Hanya Cessa yang setiap hari bersamaku di sekolah. Ia juga mengidap disleksia sama sepertiku, tetapi ia juga mengidap tumor di lehernya. Mungkin tak banyak anak yang mau berteman bahkan hanya berbicara sepatah dua patah kata denganku, karena hanya menghabiskan waktu, butuh lebih dari satu menit untukku menjawab pertanyaan dari mereka. Dan itu sudah pasti tak menyenangkan.
Pernah saat itu, tetangga sebayaku, Raissa, bertanya kepadaku, “Daritadi Aku mencari ibuku kemana mana tidak ada. Apakah Kau melihatnya?” Raissa menggerutu tak jelas, mukanya kelihatan sangat sebal.
Aku hanya memandang wajahnya, mendengarkan ucapannya dan mencoba mencerna apa yang ia katakan. Tetapi aku bingung dengan apa yang ia katakan. Aku memilih terdiam dan masih mencoba mencerna kalimat yang ia ucapkan.
“Hey Bella, apa Kamu tidak tahu kalau aku lagi kesal? Aku tuh nanya ke Kamu. Kalau nggak tau ya bilang aja! Nggak punya mulut apa gimana sih? Nggak tau apa orang lagi kesal?”
Nampaknya Raissa seperti orang yang sedang marah. Aku jadi semakin bingung. Deretan kata yang ia ucapkan membuat hatiku sakit, walaupun aku tak sepenuhnya faham akan ucapannya.
Kebingunganku akan ucapan Raissa semakin membuat kepalaku pening, otakku rasanya sakit.

Aku segera memutuskan untuk berlari masuk ke dalam rumah. Terdengar, di luar Raissa berteriak teriak. Hal itu juga berlaku saat aku di sekolah. Saat aku sedang menulis, saat aku sedang berhitung, selalu saja aku merasa kepalaku pening dan otakku memanas.
Di balik itu semua, dibalik semua keterbatasanku, aku masih punya mimpi. Secuil kecil mimpi anak Indonesia penderita disleksia. Yang ingin membanggakan kedua orangtua, membanggakan tanah airnya. Dan, apakah hal itu salah?
Walaupun aku berkebutuhan, apakah menurutmu aku tak bisa seperti yang lain? Bukannya aku menyombongkan diri, tetapi Kita kan sama-sama ciptaanNya, kita ada di satu bangsa, satu tanah air, dan memiliki bahasa kesatuan yang sama. Indonesia. Dan, salahkah anak Indonesia sepertiku bermimpi?

Pernah suatu ketika, aku mencoba membuat sebuah artikel tentang diriku di buku kecilku, tanpa sepengetahuan ayah dan ibu pastinya. Dengan sekuat tenaga aku berfikir setiap malam. Merasakan sakit kepala yang berkepanjangan. 6 hari begitu berturut turut. Entah bagaimana, 10 hari setelah selesai, naskahku dimuat di salah satu redaksi ternama daerah. Ternyata ayahlah yang mengirimkan naskahku tersebut. Aku berterima kasih pada ayah, juga pada ibu. Syukur selalu kupanjatkan padaNya. Aku masih tak percaya. Dan aku berjanji akan terus berusaha mencoba dan belajar menulis di tengah keterbatasanku.
Hingga pada suatu hari, sebuah redaksi nasional memintaku menjadi salah satu jurnalisnya dalam sebuah event. Tahukah Kamu event apakah itu? Ternyata adalah konferensi pers Asian Games 2010 di Myanmar. Aku akan berangkat ke Myanmar? Ya Allah, benarkah ini semua? Apa yang aku impikan akan terwujud, menjadi jurnalis cilik pertama di ajang bergengsi tingkat Asia tersebut. Aku akan disejajarkan dengan para jurnalis asal negara-negara di Asia? Tentunya mereka lebih dewasa dan lebih paham akan dunia jurnalistik. Dan itu berarti aku akan bisa banggakan orangtua, juga tanah airku. Terima kasih Allah.
Tetapi sayang, 3 hari sebelum keberangkatanku ke Myanmar, suatu hal buruk menimpaku. Dokter memvonisku menderita kanker otak, itulah menyebabkan mengapa aku menderita disleksia akut serta merasakan sakit yang luar biasa setiap saat. Ya Allah, cobaan apalagi yang engkau berikan ini? Aku masih ingin membanggakan orangtuaku, juga bangsaku. Aku mohon padamu ya Allah.
Hari ini adalah hari keberangkatanku ke Myanmar. Aku tak sendirian. Bersama ayah dan juga ibu serta para karyawan dari redaksi lain. Pukul 18.30 sesuai dengan jam indonesia yang melingkar di pergelangan tanganku, pesawat landing di bandara Internasional Myanmar. Tak lupa aku selalu memanjatkan puji syukur kepada Allah, agar apapun yang akan aku jalani membawa berkah dan membanggakan.
Satu hari setelah aku sampai di Myanmar, adalah hari dimana konferensi pers Asian Games dilaksanakan. Tepat di hari Jum’at, tanggal 28 Oktober 2010. Bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda di Indonesia. Dan aku berharap, di tanggal baik ini aku bisa menjadi pemudi Indonesia yang membanggakan.
Perhelatan akbar telah selesai dilaksanakan. Aku tahu, semua masyarakat Indonesia menantiku. Menanti kabar apa saja yang akan aku ceritakan. Ayah juga bilang, sesampainya aku di Jakarta nanti, aku harus segera bertolak ke Istana Negara, untuk bertemu bapak Presiden Indonesia.
Pukul 08.00 pagi aku dan rombongan sampai di Jakarta. Aku dan juga ayah serta ibu segera mencari taksi untuk kutumpangi menuju istana negara. Namun, Allah berkehendak lain, saat di perjalanan tiba tiba kepalaku merasa sakit yang tidak seperti biasanya. Aku menjerit kesakitan. Ayah dan ibu panik, segera aku dilarikan ke rumah sakit.
2 jam di rumah saat tak membuatku sadar. Aku tahu, ayah dan ibu merasakan kecemasan. Ya Allah, jika memang ini saatnya aku untuk pergi dari dunia ini aku ikhlas ya Allah. Aku sudah tidak kuat merasakan sakit dalam hidupku ya Allah.

Allah mengabulkan permintaanku. Kini malaikat maut telah mencabut nyawaku. Terdengar isak tangis yang begitu mendalam dari sanak saudaraku. Dan, aku meninggal dengan senyuman manis menempel di bibirku.
Terima kasih ya Allah. Engkau telah mengabulkan semua doaku. Engkau telah membuatku bisa membanggakan orangtuaku, juga tanah airku, di tengah keterbatasan yang Engkau berikan.
Semoga aku bisa menjadi contoh baik bagi semua pemuda dan pemudi Indonesia. Yang selalu bersyukur atas apa yang Allah berikan. Tak pernah putus asa dalam setiap cobaan. Dan bisa membanggakan tanah air Indonesia tercinta ini.
Bangun pemuda-pemudi Indonesia…
Lengan bajumu singsingkan, untuk negara…
Masa yang akan datang, kewajibanmulah…
Menjadi tanggunganmu terhadap nusaaaa…

Cerpen Karangan: Ilma Ainunisa
Facebook: Ilma Niki Rise
Halo Namaku Ilma Ainunisa. Aku lahir di Banyuwangi, tepatnya tanggal 29 Maret 1999. Saat ini aku sedang menempuh study semester 5 di salah satu sekolah menengah pertama favorite di kotaku. follow account twitterku yaaa, @ilmaannisa1
Ini cerpen pertamaku yang aku publish di cerpenmu.com . makasih ya yang sudah mau baca, dan semoga sukaa

sumber http://cerpenmu.com/

Read More »
10.01 | 0 komentar

Cerpen: Hujan dan Puisi

Hujan dan Puisi
Ketika dulu mereka masih remaja, Amaya bercerita tentang cantiknya gerimis dalam genggaman tangan para penyair. Tentang derai hujan yang lirih mempertautkan hati dan kerinduan sepasang kekasih yang berjauhan. Tentang deras hujan yang berbisik mesra pada dedaun. Tentang air hujan yang manja terbaring di dasar tanah dan yang lainnya berlari lincah menyusuri sungai, menuju lautan. “Rahim bumi dan laut yang luas akan menyimpan air hujan dengan baik, seperti halnya puisi yang menyimpan keindahannya…” Ucap Amaya.
Amaya masih ingat, ketika masih kecil, ia sangat mencintai hujan. Setiapkali hujan turun, Han, sahabat bermainnya, akan menari gemulai di bawah hujan, lalu membuatkan Amaya perahu kecil dari kertas dan daun-daun. Sementara Amaya hanya tertawa kecil di jendela rumahnya, kemudian meminta Han menyimpan perahunya di arus sungai.
“Han, naiklah ke pohon-pohon yang tinggi! Lihatlah kemana perginya air hujan! Lihatlah kemana perginya ia membawa perahu kita!” rengek manja Amaya ketika itu.
Han hanya tertawa dan berseloroh bahwa mereka akan melihat dengan leluasa kemana perginya air hujan dan perahunya setelah mereka menjadi dewasa, tumbuh besar dan tinggi melebihi pohon-pohon. Han berjalan tegap meniru langkah raksasa. Amaya tertawa kecil melihatnya.
Begitulah, dari kecil, mereka selalu bersama. Bertahun-tahun tumbuh besar bersama. Menjadi dewasa. Meskipun Amaya sangat mencintai hujan, tetapi Han selalu merasa ia lebih berhak dicintai Amaya. Sampai beberapa tahun kemudian, akhirnya merekapun menikah dan menempati sebuah rumah kontrakan yang sederhana, satu kilometer dari sebuah pabrik tempat Han bekerja.
Setelah menikah pun, Amaya masih mencintai hujan. Han mengerti. Di rumah kontrakan mereka, setiap sore ketika hujan turun, Amaya akan duduk di dekat jendela dan menulis puisi tentang gerimis. Setelah itu, ia akan menyerahkan puisinya dan meminta suaminya membuat perahu kecil dari kertas.
Setelah hujan usai, ia akan mengajak suaminya menuju sungai kecil, menyimpan perahu kecilnya, dan membiarkannya hanyut terbawa arus. Han berpikir, itu semacam ritual yang sepele, tetapi terkadang merasa hal-hal kecil itu membuat isterinya sangat bahagia. Maka ia tetap mengerti.
Tak pernah berubah. Bahkan kebiasaan itu semakin sering terjadi setelah istrinya mengidam anak pertama. “Buatkan lagi aku perahu-perahu kecil dari puisi-puisiku ini, Han. Aku ingin menyimpan sendiri di atas riak sungai.”
“Sayang, mungkin akan lebih baik jika puisi-puisi itu kau simpan saja di dinding kamar kecil kita ini. Jangan biarkan hanyut. Hilang. Ide puisi itu kan mahal.” Ucap Han ketika mereka terbaring menjelang tidur. Amaya hanya tertawa mendengarnya.
“Dari kecil, aku selalu ingin memanjat pohon-pohon, melihat kemana arahnya air hujan berlari membawa perahu kita. Aku selalu senang jika masih bermimpi tentang indahnya hujan yang menghampiri halaman rumah kita… dan kita menuju sungai, menghanyutkan perahu kecil kita…” ucap Amaya.
Begitulah. Hari-hari terus berjalan. Beberapa bulan kemudian, hadirlah anak yang tampan dalam kehidupan mereka. Satu hal yang sering Amaya ajarkan pada anaknya adalah: mencintai hujan! Jika musim hujan menghilang begitu panjang, ia akan memperkenalkan hujan pada anaknya lewat lukisan, gambar, foto, dan film. Setelah musim penghujan datang, ia dengan semangat akan mengajak anaknya duduk di dekat jendela. Mengajak ia mendengarkan suara hujan menabuh pohon-pohon. Mengajaknya menggambar hujan, menulisnya dan seterusnya. Han hanya tersenyum melihatnya.
***
Tak seperti biasanya, Amaya susah tidur malam itu. Entah kenapa jantungnya berdebar kencang. Di luar rumah, hujan terdengar riuh.
“Han, aku merasa kini sudah banyak berubah. Dulu, aku hanya tahu bahwa gununglah satu-satunya yang lebih tinggi berdiri dari pohon-pohon, kini ternyata sudah berdiri gedung-gedung yang lebih tinggi dari pohon-pohon. Akupun heran, kenapa akhir-akhir ini puisiku tak lagi mampu menyerap cantiknya gerimis. Cuaca sudah sulit terbaca. Aromanya berbau tak sedap, seperti bau asap. Sesekali seperti bau sampah busuk. Tak ada lagi warna yang cerah pada lengkungan pelangi. Kini hanya terlihat semacam warna yang agak gelap pada langit. Semacam bentangan jelaga. Entahlah. Aku khawatir…” Keluh Amaya.
“Sudahlah, jangan berpikir yang aneh-aneh. Mungkin kau terlalu lelah saja…”
“Han, aku sudah lama mengenali semuanya. Karena aku menulis puisi tentang hujan dan alam. Tahun ini, suara hujan sudah tak merdu lagi. Agak mengerikan. Berisik. Menakutkan. Oh iya, kini pohon-pohon dan rumput sudah begitu mudah kuhitung, tidak seperti dulu. Dengar, Han. Suara hujan seperti marah. Seperti membenci kita! Aku agak ragu apakah aku masih mencintai hujan? Ia telah berubah! Aku takut. Aku jadi ingin pulang ke kampung halaman, Han…”
“Hm, iya iya. Ah, aku tidur duluan ya. Besok mau kerja…”
“Dengarlah, Han…” Amaya bangkit dari tempat tidur. Bergegas menghampiri jendela. Angin kencang menyapu hujan. Meliuk-liuk. Bergemuruh. Suaranya pada daun, kaca jendela dan permukaan tanah lebih keras dari yang Amaya Pahami. Ia bergegas menutup gorden. Berjalan keluar kamar, menuju kamar anaknya. Si tampan kecil sudah tertidur pulas. Satu kecupan hangat Amaya berikan di pipi anaknya. Setelah ia mematikan lampu di kamar anaknya, ia bergegas masuk kembali ke kamarnya. Lama memeluk erat suaminya. Lelap. Di luar, hujan masih deras terdengar.
Menjelang subuh, langit mengirim ribuan rinai, tak terdengar lagi deras hujan. Yang terdengar hanyalah suara teriakan orang-orang di luar rumah. “Banjir! Banjir!” Amaya terbangun. Ia berteriak-teriak histeris melihat air kotor melimpah-ruah ke kamarnya. Menerobos jendela kamarnya. Meliuk-liuk tinggi. Menggenangi temat tidurnya. Suaminya terperanjat. “Ya Tuhan! Apa ini? Banjir! Amaya, di mana anak kita?!” Han bergegas turun dari tempat tidur, menerobos liukan air, bersusah-payah keluar kamar, menghampiri kamar anaknya. Di luar kamar, air lebih tinggi. Liukannya keras. Melihat itu, Amaya semakin menangis keras. Histeris.
Gelap belum habis. Dingin. Dari kaca jendela, lampu senter berkelebatan. Tim evakuasi mulai berdatangan. Perahu karet berputar-putar. Dari dalam rumah, Amaya dan suaminya berteriak minta pertolongan. Sekuat tenaga Han membuka pintu rumahnya. Gelombang air menyeret sampah ke dalam rumah, seperti lidah raksasa yang menjilat-jilat dinding dan apapun yang berada di dalam rumah. Tim evakuasi berusaha keras menyelamatkan mereka. Entah dari mana datangnya gelombang banjir itu. Terasa semakin membesar. Keras. Mengerikan.
Berjam-jam tim evakuasi menyelamatkan warga yang berhasil ditemukan. Evakuasi mengalami kesulitan, karena hari belum terang dan arus air cukup tinggi menutupi pintu-pintu rumah warga. Amaya tak henti-henti menangisi anaknya yang hilang. Sesekali tak sadarkan diri. Sesekali terbangun dan menangis keras. Depresi.
Beberapa hari kemudian, warga dan tim evakuasi menemukan korban-korban yang hilang. Anak Amaya dan Han akhirnya ditemukan. Tewas. Di halaman rumah mereka. Entahlah. Mungkin banjir menculiknya dari kamarnya. Amaya histeris. Lalu tak sadarkan diri.
***
Hening. Amaya masih tertidur di ranjang rumah sakit. Suaminya duduk di sampingnya, dengan wajah yang dipenuhi beban yang maha berat. Tatapannya kosong. Menatap letih kaca jendela.
             “Rumah kita tenggelam. Kota ini seperti akan tenggelam…” ucap Han lirih. Isak tangisnya yang berat mulai terdengar gemetar. “Kini kita sudah tumbuh besar dan berdiri lebih tinggi dari pohon-pohon. Ya, pohon-pohon yang sudah habis ditebang, berganti bentuk menjadi gedung-gedung tinggi. Kini aku mengerti kenapa hujan dalam puisimu tak lagi berlari manja ke dasar tanah dan lautan. Benar katamu, banyak hal yang sudah berubah.
Kini kau tak hanya menikmati hujan yang berlari lincah dalam mimpi-mimpiku lagi, tetapi air hujan dari sungai-sungai sudah berlari menerobos jendela rumah dan menghampiri kita di tempat tidur… dan menghanyutkan anak kita…” Han menangis. Pilu. Istrinya mulai sadar. Perlahan matanya terbuka.
            “Han, di mana anak kita?” tanya istrinya. Lemah. Gemetar. “Han! Kemana anak kita?! Han?!” Ia gemetar. Kalut. “Han! Cepat Han! Naiklah ke pohon-pohon yang tinggi, Han! Lihatlah kemana perginya air hujan! Lihatlah kemana perginya ia membawa anak kita!” Amaya meracau. Menangis histeris. Meronta-ronta. Suaminya mendekapnya dengan erat. Erat. Air matanya mengalir pelan, seperti merdunya suara hujan dalam kenangan. Bertahun-tahun yang lalu…
sumber http://manuskripkesunyian.wordpress.com/

Read More »
09.48 | 0 komentar